Oleh: Ossario Hussein
Tanaman ini cepat menyebar, membentuk “karpet hidup”, mencekik dan mematikan tanaman asli, merusak keanekaragaman hayati lokal, dan sangat sulit diberantas setelah menyebar.
Dari ketinggian 720 mdpl, saya menghadap Hutan Damar yang tak lagi rimbun. Lahan luas yang kosong telah tertebang selama puluhan tahun, pasca-pemangkasan periodik Damar tua. Lahan ini berada di wilayah Baturraden Adventure Forest dan telah kami tanami pala serta Kacang Sacha Inci—dikenal juga sebagai Kacang Peru (Plukenetia volubilis).
Ini adalah kacang dengan bentuk buah segi lima, mampu hidup di bawah tegakan, dan bertahan hingga dua puluh tahun, sehingga disebut “kacang abadi”. Sebuah kacang dengan kemampuan super karena tinggi protein dan mengandung Omega 3, 6, dan 9.
Tapi tulisan ini bukan tentang Kacang Peru, melainkan tentang sang penguasa tutupan lahan di bawah tegakan dan daratan Baturraden: Sphagneticola trilobata.

Sphagneticola trilobata, memenuhi dataran Hutan Damar di Baturraden Adventure Forest
Pada awalnya, saya mengira ini adalah tanaman Wadelia texana. Saya terkecoh oleh ciri-cirinya yang serupa: bunga berwarna kuning, daun hijau mengilap yang bergerigi di bagian tepi, berlekuk tiga (trilobata), serta sifatnya yang menjalar. Ternyata, tanaman ini adalah Sphagneticola trilobata.
Tumbuhan semak ini adalah sang penguasa. Dengan bunga kuning berbentuk matahari yang mirip bunga Aster, di Indonesia ia sering disebut Singapore Daisy atau Seruni Rambat. Tanaman ini sangat dominan, mudah dijumpai hingga ketinggian 900–1.000 mdpl, dan memenuhi setiap ruang dataran. Tanaman invasif ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, Kepulauan Karibia, dan bagian utara Amerika Selatan (seperti Kolombia, Venezuela, dan Brasil).
Suka dan Benci
Tanaman ini cepat menyebar, membentuk “karpet hidup”, mencekik dan mematikan tanaman asli, merusak keanekaragaman hayati lokal, dan sangat sulit diberantas setelah menyebar. Tepatlah jika sebagian peneliti mengkategorikannya sebagai salah satu gulma invasif terburuk di wilayah tropis, termasuk Indonesia (khususnya Baturraden), maupun subtropis di Australia dan Afrika.
Suatu waktu, seorang teman mahasiswa dari Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, yang baru saja meneliti potensi pakan ternak di Baturraden Adventure Forest, membagikan status WA (Whatsapp). Status itu berisi tautan tentang kemampuan herbal tanaman ini.
Disebutkan bahwa Sphagneticola dapat digunakan untuk anti-peradangan, mengobati pilek, demam, batuk, dan luka akibat gigitan serangga. Di Karibia, teh tanaman ini digunakan sebagai minuman pasca-persalinan untuk membantu membersihkan rahim dan menghentikan pendarahan. Sementara di Cina dan India, tanaman ini dipercaya mampu melindungi organ hati dari kerusakan.
Di Baturraden, potensi herbal ini belum dimanfaatkan. Diskusi saya dengan penduduk lokal mengonfirmasi bahwa sejauh ini tidak terdapat kearifan lokal untuk memanfaatkan tanaman tersebut. Mereka hanya mengonfirmasi bahwa ternak tidak menyukainya. Hal ini lumrah, mengingat para pengarit di kawasan hutan sering kali tanpa sengaja membawa serta tanaman ini dalam hasil aritannya. Bagi ternak, kandungan airnya yang tinggi membuatnya kurang disukai.
Kesilapan saya tentu dapat berlanjut, mengingat pengetahuan saya yang minim tentang tanaman ini. Benarkah tanaman ini memiliki potensi herbal seperti yang disebutkan?
Perlu langkah lebih lanjut untuk meneliti tanaman ini agar potensinya dapat bermanfaat. Namun, hal lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah bagaimana membatasi penyebarannya demi menyelamatkan keanekaragaman hayati tanaman lokal.