Bawor, Tujuh Puluh Tahun Untuk Gunung Slamet

Bawor, petani Kemutug Lor, Baturraden.

Pak Bawor, tenaganya tidak muda lagi. Tujuh puluh tahun seharusnya menjadi masa menikmati hidup dengan tenang. Meski demikian, tetap bersyukur setidaknya kami masih memiliki ketertarikan yang sama untuk menanam di bawah kaki Gunung Slamet, baik untuk kami maupun orang lain.

Oleh: Ossario Hussein

Sudah seminggu lebih Pak Bawor tidak masuk kerja. Saya dan Mas Jhonny menjenguk di rumahnya di Kemutug Lor, Baturraden. Hujan rintik seusai magrib tak menjadi masalah, maklum curah hujan di Baturraden memang luar biasa tinggi—data BPS bahkan mencatat angka tahunan mencapai 6.165 mm, bersaing ketat dengan Mimika (Papua) dan Sumatera Barat. Mungkin sudah saatnya predikat “kota hujan” Bogor ditinjau ulang, ah, pikiran konyol!

Motor kami perlahan menembus kabut, menyusuri gang sempit hingga ke ujung jalan buntu. Rumah Pak Bawor memiliki halaman kecil yang dijejali motor dan aneka barang, gelap tanpa penerangan, sementara di sebelah kanan, terdapat pawon yang terbuka, di depannya timbunan kayu kering berjejal rapat, tinggi digunakan sebagai bakar untuk memasak. Mengingatkan saya pada rumah eyang di Wonogiri tiga dekade lalu.

Di dalam, Pak Bawor tertidur lesu di sofa, wajahnya pucat dan berkeringat. Putrinya menyapa dan menjelaskan bahwa bapaknya flu, hanya mengandalkan obat warung dan belum sempat ke dokter. “Lekas sehat, Pak,” ucapku. “Terima kasih, Pak,” jawabnya pelan.

“Kesambet penunggu pohon bambu yang telah ditebang sebelumnya.”

Ya, jawaban ini lebih membekas di benakku daripada percakapan tentang gejala atau kondisi medisnya. Saya urung menggali lebih dalam soal penunggu pohon bambu, apa yang dilihat, atau kebenaran penyebab sakitnya. Namun, Pak Bawor dan Mas Jhonny, seperti biasa, mengalir deras bercerita dengan semangat yang menggebu, seolah sakit yang dirasa hilang. Mereka tertawa, melihatku yang penakut ini memohon agar cerita horor itu dihentikan. Keceriaan memang ampuh mendorong hormon endorfin dan dopamin bekerja; tertawa adalah obat, begitu kata sebagian orang.

Bagi saya, Pak Bawor (70-an tahun) dan Mas Jhonny (40-an tahun) adalah rekan kerja yang sangat langka di dunia pertanian saat ini. Terutama Pak Bawor, pengalamannya mengenal ekosistem hutan Gunung Slamet adalah pengetahuan yang tak ternilai. Banyak hal yang saya pelajari darinya, dari tanaman herbal, buah-buahan, hingga gejala alam.

Langka, ya langka ! Ironisnya, kondisi ini serupa dengan data nasional mengenai regenerasi sumber daya manusia di bidang pertanian. Hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa Generasi X mendominasi dengan 42,39%, diikuti Baby Boomer 27,61%. Sementara Generasi Milenial (19-39 tahun) hanya sekitar 21,93% (6.183.009 orang), dan Generasi Z (19-26 tahun) hanya 2,14%, menunjukkan tren penurunan minat yang signifikan.

Komposisi Generasi Tenaga Kerja Pertanian (Sensus Pertanian 2023)

Data ini sejalan dengan gambaran di Kabupaten Banyumas, di mana lowongan kerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya diminati 0,92% pelamar (mayoritas pria), berdasarkan data Januari-Desember 2024. Sebaliknya, industri pengolahan (pabrik makanan, tekstil, otomotif, farmasi, dll.) menjadi bidang paling diminati (43,20%), meskipun juga memiliki tingkat penolakan tinggi karena kriteria kecakapan kerja yang ketat. Industri perdagangan besar dan eceran (10,61%) serta jasa perorangan (10,31%) menempati peringkat berikutnya.

Tabel. Jumlah Lowongan Kerja Terdaftar, Dipenuhi, dan Dihapuskan Menurut Golongan Pokok Lapangan Usaha dan Jenis Kelamin di Kabupaten Banyumas Januari s/d Desember 2024

Meski sulit bagi saya untuk mendapatkan data yang lebih detil tentang; jumlah penyerapan tenaga kerja di beragam sektor. kategori jenis kelamin dan tingkatan umur. Namun, terdapat simpton yang serupa baik ditingkat nasional maupun di Kabupaten Banyumas serta terjadi perkembangan pesat di sektor industri pariwisata sehingga keminatan  tenaga kerja disektor pertanian berkurang khususnya untuk Kecamatan Baturraden.  Hal ini berhubungan lurus dengan rendahnya Indeks Ketahanan Pangan 2024 yang berpotensi menghambat pemenuhan pangan mandiri masyarakat dan menyebabkan kasus stunting mengalami tren kenaikan sepanjang 2025. Semoga terdapat keterminatan untuk melakukan penelitian lebih dalam.

Lahan pertanian di Baturraden tiga puluh tahun lalu, menurut Pak Bawor mudah dijumpai, hamparan kuning padi yang siap panen, sayur mayur, tergantikan beragam jasa pendukung pariwisata. Pak Bawor, kini tidak muda lagi. Tujuh puluh tahun seharusnya menjadi masa menikmati hidup dengan tenang. Saya dan Mas Jhonny tetap bersyukur, setidaknya masih memiliki ketertarikan yang sama untuk menanam di bawah kaki Gunung Slamet, baik untuk kami maupun orang lain. Lekas sehat, Pak. Ingat salam kita: “Salam Tani, Salam Lestari.”

Related posts

Dialog Bencana Makelar Kopi dan Ksatria Gila

Baturraden Antara Harmoni dan Murka Serayu

Perjumpaan Saninten