Eksploitasi gila-gilaan alam adalah kuasa manusia. Alam akan menemukan cara mainnya dan keluar sebagai pemenang. Titik utamanya adalah sampai berapa lama kita mampu mempertahankan peradabannya.
Oleh: Ossario Hussein
Ini adalah catatan perjalanan, sebuah upaya untuk mengikat ingatan dari keterbatasan pikiran saya yang mudah menguap. Catatan ini juga bagian dari cara berpikir “lompatan keledai”, dengan harapan dapat bermanfaat bagi saya sendiri maupun orang lain.
Perjalanan kali ini adalah kunjungan ketiga saya ke Pegunungan Dieng. Dua kunjungan sebelumnya selalu via Dieng Wetan (Wonosobo). Pertama, saya bersilaturahmi (kunjungan balasan) dengan petani Wonosobo yang pernah belajar metode mikrobiologi lokal di Baturraden Adventure Forest. Kedua, saya melakukan perjalanan via jalur tengah membelah Wonosobo, hingga Kopeng, menuju Salatiga, Boyolali, terus ke Wonogiri. Tujuannya sama: melihat bentang alam pertanian di pegunungan.
Kunjungan ketiga kali ini adalah untuk menghadiri ajang Kopdargab (Kopi Darat Gabungan) HWRI (Honda Win Riders Indonesia) Jawa Tengah ke-16 di Telaga Menjer, Wonosobo. Saya antusias mengikutinya karena ini adalah pertama kalinya saya akan menembus jalur Dieng Kulon (Banjarnegara). Biasanya, jalur pulang saya ke Purwokerto selalu sama dengan rute keberangkatan.
Mulai dari Telaga Menjer menuju Dieng, pemandangan didominasi bukit-bukit yang berjejal oleh budidaya sayur-mayur, terutama kentang. Sayatan-sayatan guludan mulsa plastik terlihat membentang, dan tanaman kentang di sana sudah memperlihatkan keindahan bunga ungunya.
Bunga Kentang di Pengunungan Dieng.
Di tempat lain, semaian berbaris di tepi jalan, mulai menyapa langit. Pemandangan itu terputus-putus oleh hamparan cabai, terong, daun bawang, dan wortel. Sesekali, terlihat juga daun kembang kol yang menyembul besar, gagah, dan hijau.
Lereng-lereng bukit tak mau kalah. Rumput ilalang kering dan pohon bambu di sebagian tempat mulai ditempati jalin-temali rambatan labu hijau. Ada yang telah siap panen, dan ada yang terbiarkan kering—mungkin saja karena batas optimal panen telah dilampaui atau penyakit. Maklum saja, saya yang sembari mengendarai motor tidak sempat untuk menyelidiki lebih dalam.
Pemandangan ini hampir serupa hingga Batur, masih didominasi sayur-mayur. Perbedaan baru nampak jelas saat muncul garis-garis tegas tanaman padi yang menjulang, menguning, dan menghijau. Laju pemandangan ini kemudian sayup-sayup meredup, dibatasi oleh kawasan hutan Karangkobar. Meski begitu, saya masih menjumpai perkebunan singkong, salak, sayur-mayur, dan jagung yang seolah “malu-malu”.
Sebagian wilayah Karangkobar adalah kawasan hutan dengan tanaman pinus. Jalanannya berupa turunan tajam dan belokan curam, sehingga berkendara perlu konsentrasi yang tinggi. Namun, hembusan angin dan terpaan terik matahari tidak lagi menghantam. Rasanya berbeda dengan saat berada di Pegunungan Dieng, yang meskipun (hawanya) dingin, terik mataharinya terasa langsung menghujam.
Penat makin terasa, hampir saja saya terperosok ke luar jalur. Mata mulai mengantuk. Kami berhenti sejenak di Pasar Rakit, Kabupaten Banjarnegara. Syukurlah. Di sepanjang tepi jalan, kami berpacu dengan saluran irigasi sawah Banjarcahyana yang seolah tak putus. Airnya sangat melimpah—sumber berkah dari Sungai Serayu yang berhulu di Pegunungan Dieng dan ditampung oleh Waduk Panglima Besar Jenderal Soedirman (lebih dikenal dengan Waduk Mrica).
Jaringan irigasi Banjarcahyana ini mengairi ribuan hektar sawah teknis, mencakup wilayah di Kabupaten Banjarnegara (sekitar 1.305 hektar) dan berlanjut hingga ke Kabupaten Purbalingga (sekitar 3.696 hektar). Pantas saja ‘karpet kuning’ padi ini terus menemani perjalanan kami hingga Purbalingga.
Bentang alam pegunungan yang indah, suhu dingin yang menyejukkan, hamparan sayur-mayur, sawah, dan rerimbunan hutan pinus adalah realitas yang saya dapatkan. Menyenangkan, namun sekaligus mengkhawatirkan.
Ini adalah sebuah studi kasus bencana ekologi. Isu utamanya adalah dampak timbunan erosi di Waduk Mrica akibat alih fungsi lahan di Dataran Tinggi Dieng. Angkanya disebut mencapai jutaan meter kubik lumpur per tahun. Pertanian di lereng curam tanpa memperhatikan kaidah konservasi tanah, serta buruknya kualitas air akibat residu pestisida dan logam berat, adalah biang keroknya.
Pembangkit Listrik Tenaga Air dari Waduk Mrica mengalami nasib serupa. Masalahnya berlapis: mulai dari gangguan intake akibat suburnya eceng gondok, penurunan kapasitas tampung, risiko kerusakan turbin, hingga tingginya biaya operasional untuk mengeruk sedimen tersebut.
Pemandangan di bentang alam ini mungkin akan bertahan. Manusia dengan segala kuasa berlomba tarik-menarik dalam setumpuk benang kusut. Satu terus menarik dan yang lain mencoba memperbaiki. Sementara alam dengan kuasanya tidak peduli; mereka memiliki aturan main sendiri. Dalam setiap kepunahan massal makhluk penghuni Bumi, alam akan menemukan cara adaptasi dan menciptakan keseimbangan baru. Pada akhirnya, alam akan baik-baik saja dan keluar sebagai pemenang.
Pertaruhannya adalah masa depan. Bukan untuk alam yang sudah pasti keluar sebagai pemenang, melainkan untuk manusia. Pertanyaannya, sampai di titik mana peradaban kita akan bertahan dari kepunahan massal yang dibuat oleh tangan kita sendiri?