Gondorukem 100 Tahun Atau Lebih

Kabut di Kaki Gunung Slamet

Aku tidak bernasib sama dengan teman dan keluargaku yang berselimut tanah. Aku tak lagi menjadi pelepas lelah. Aku akan mendatangi mereka apa adanya.

Oleh : Ossario Hussein

Gondorukem.

Tak biasanya aku ingin bercerita, apalagi kepadamu, Ossario. Aku tahu kita dua orang yang berbeda dalam pemikiran. Kerumitan selalu menjadi pertimbanganmu saat menerangkan segala persoalan. Meskipun aku jauh lebih tua, dapatkah kali ini kamu hanya mendengar?

Benamkan sejenak kerumitan dan permudah segala hal. Terkadang, burung pun ingin hinggap—ditinggalkannya kebebasan, membiarkan angin berkuasa atasnya. Kekhawatiran berlebih memang menjadi petaka, namun baik pula untuk menjadi pengingat dan perenungan.

“Ossario, apakah ini giliranku?”

“Orang tuaku datang dengan kebanggaan, dari Suwarnadhipa, ‘Tanah Emas’ bagian barat Jawadwipa, ‘Pulau Padi’. Kamilah penguasa baru. Lupakan era tua! Saatnya kini kemajuan dan masa depan membuka lembaran sejarah baru!”

Mereka yang berdiri tegap dan kokoh, meskipun berselimut tanah, kini merebah. Tak jelas ujung rimba nasibnya. Satu per satu tumbang adalah kepastian yang diterima; tak bisa menolak, hanya menerima.

Hanya Gora yang tak dapat kami taklukkan saat itu. Ia hanya melihat, tenang, tak bergeming. Baginya, yang hidup lebih tua daripadaku, tragedi ini adalah angin lalu; hanya lembaran baru dari sekian banyak lembaran tragedi yang telah dilaluinya.

“Lihat, Ossario. Gora kini tetap pada sikapnya yang tenang, sama seperti waktu pertama kali aku melihatnya.”

Kaki-kakiku sudah tidak tampak baik lagi. Urat-urat menyapa sengatan matahari di tanah yang makin lama menangis—tak kukenal lagi. Tubuhnya teracuni, hari demi hari. Ratapan yang sama kualami.

Tubuhku terhuyung, tak ada lagi ikatan yang mampu menahan. Hanya dijadikan sandaran pelepas lelah, kegembiraan, kekalutan, keputusasaan, dan harapan. Rona-rona wajah itu menjadi gambaran yang dapat kukenal.

Kini kusendiri. Kilas balik kembali terjadi. Aku bukan lagi kemajuan dan masa depan. Aku adalah era tua dan akan terbenam. Temanku yang lain entah bagaimana rimbanya. Hanya dapat melihat mereka berselimut tanah.

Hai Gora, kau tetap tenang. Aku akan menjalani babak baru, tidak lagi menghadapmu. Biarkan tanah dan air bebas membawaku bersama kemarahan mereka yang tertumpah, menuju peristirahatan baru.

“Terima kasih, Ossario, karena hanya terdiam dan mendengar.”

Hujan terus menghujam, petir berdentum, awan gelap terus berdatangan. Satu hari ini mereka tak berhenti. Di kejauhan, berduyun-duyun tanah dan air berteriak memanggilku. Tidak seperti biasanya, mereka melaju dengan cepat memuntahkan segala kemarahan.

Aku tidak bernasib sama dengan teman dan keluargaku yang berselimut tanah. Aku tak lagi menjadi pelepas lelah. Aku akan mendatangi mereka apa adanya.

“Ossario, aku ingin hidup lebih lama lagi… 100 tahun atau lebih.”

Related posts

Dialog Bencana Makelar Kopi dan Ksatria Gila

Baturraden Antara Harmoni dan Murka Serayu

Perjumpaan Saninten