Menanam adalah bentuk cinta. Pertalian kelahiran dan kematian yang tak pernah putus. Di dalamnya terdapat proses memelihara pembenihan, tumbuh dewasa, hingga berbuah dan dipersiapkan kembali menjadi benih untuk menjaga masa depan.
Oleh: Ossario Hussein
Dhia Prekasha Yoedha. Saya memanggilnya Mas Yudha. Ini adalah kali kedua kami bertemu. Pertama di rumahnya, sekarang di Baturraden Adventure Forest, Purwokerto. Mengenalnya, saya pasti mengingat pergulatan panjang beliau di dunia sosial dan politik nasional, utamanya pada era Orde Baru. Beliau adalah senior aktivis mahasiswa Universitas Indonesia (angkatan ’70-an), jurnalis, penulis, politikus, dan pegiat demokrasi.
Saat pertama kali berjumpa di rumahnya, ia masih mengingatku. Kami sebenarnya jarang bertukar pikiran secara mendalam, biasanya hanya dalam satu forum diskusi. Kali ini lebih personal. Di halaman rumahnya, Mas Yudha, yang juga mantan wartawan Kompas, baru saja pulang dari ruang operasi. Kateter masih terpasang dan dibawanya sembari duduk menyambut kami.
Tatapannya masih tajam, suaranya masih lantang, tidak menunjukkan rasa sakit. Perihal sakitnya tidak lama menjadi topik perbincangan. Ia terus mengalir, melantunkan semangat yang kuat, terkadang suaranya meledak-ledak. Pembicaraan beralih ke situasi politik nasional, antropologi, budaya, hingga sejarah Purwokerto yang menjejali pemikiran kami.
“Pak, suaranya pelankan, ingat baru dari rumah sakit,” ucap Ibu Emi, istri Mas Yudha, mengingatkan dari ruang tamu.
Perbincangan kami terus berlangsung, seperti lebah yang mengejar dan menyengat. Namun, saya sering kali menghindar; mata dan pikiran saya fokus memperhatikan papan tulis (whiteboard) berukuran mungkin 1,5 x 1,5 meter, terpasang di dinding merah. Di bawahnya, sebuah radio terus menyala dan ada setumpuk buku.
Dalam hati saya membaca: “Pergulatan politik pra dan pascakemerdekaan, Pergerakan Islam, Pemikiran Soekarno…” Hanya itu sekilas rangkuman yang dapat saya ingat.
Penasaran dengan hal tersebut, saya bertanya, “Mas Yudha, untuk apa tulisan itu?” sembari menunjuk ke arah papan tulis itu.
“Saya ingin menulis buku lagi, sedang saya persiapkan,” ucapnya dengan tegas.
Merinding saya mendengarnya. Semangat untuk menuangkan ide dan keprihatinan sebagai jejak abadi—Verba volant, scripta manent (yang terucap terbang, yang tertulis menetap)—demi melawan kelupaan. Rasa sakit dan keterbatasan adalah pecut untuk terus berkarya bagi orang-orang yang berpikir merdeka.
Saya teringat Gramsci, Soekarno, dan Tan Malaka: dari Pendjara ke Pendjara, hingga ruang sempit di Rawajati tempat lahirnya Madilog. Memikirkannya saja hingga hari ini, saat saya menulis ini, membuat saya merinding.
Demikian perjumpaan kami yang pertama.
Pada perjumpaan kedua, saya mengajaknya ke kebun koleksi tanaman pakan dan pangan bergizi. Kebun ini kami harapkan dapat mengatasi kasus gizi buruk di kawasan hutan, khususnya Baturraden dan Kabupaten Banyumas. Letaknya di belakang Agathis Resto, sekitar 50 meter melalui jalan menurun dan menanjak.
Dengan tenang dan penuh perhatian, Mas Yudha mendengarkan saya menjelaskan nama hingga manfaat tanaman yang kami tanam.
“Ini tanaman Sacha Inchi… ini Irut… Gembolo… Jali-Jali… Sato Imo… Arachis pintoi…,” ucap saya dengan tegas sembari berjalan santai menunjuk tanaman-tanaman tersebut.
Mungkin sama seperti saya, di perjumpaan pertama fokus pada papan tulisnya, pikiran Mas Yudha kini melayang-layang di dunianya sendiri. Tiba-tiba, ia bertanya kepada saya, “Kamu tahu, dahulu padi bukan makanan pokok dan cabai bukan tanaman asli Nusantara? Dan itu sengaja dibawa sebagai bentuk dari penjajahan?”
Meski saya sudah mempersiapkan “kuda-kuda”, saya tetap saja tersandung. Saya kaget tak terkira mendapatkan pertanyaan ini. Perlahan saya terdiam, menghimpun segala ingatan yang ada, mempersiapkan jawaban.
“Iya, Mas. Cabai dari Benua Amerika. Sementara, padi memang bukan makanan pokok dan tanaman asli Nusantara. Saat itu, mungkin makanan pokok kita sagu,” ucapku perlahan.
Hingga akhir silaturahmi, kami kembali tenggelam dalam wacana situasi politik nasional, antropologi, budaya, hingga sejarah Purwokerto.
Sebagai koda perjalanan ini, saya melihat Mas Yudha seperti sedang menanam, sama seperti yang saya lakukan. Keduanya adalah bentuk cinta yang dapat ditunjukkan. Menanam adalah pertemuan kematian dan kelahiran yang terus-menerus berlangsung. Di dalamnya terdapat proses memelihara: benih dapat tumbuh di persemaian, kita merawat segala kelainan yang mengganggu, hingga menikmati hasil panen untuk dipergunakan lagi sebagai bibit.
Usaha ini adalah bagian dari menjaga masa depan. Nilai, pemikiran, ide, serta semangat Mas Yudha tak kunjung padam. Sehat dan semangat selalu, Mas Yudha.