Narsikun Dua Generasi Memelihara Hutan Baturraden

Pak Tawin. Pak Narsikun. Dua generasi rimbawan Perhutani. Terima kasih telah memelihara pohon Damar kecil yang kini terus tersenyum, dan pohon Damar besar yang menuntun tenang, tetap berdiri gagah di hutan Baturraden.

Pak Narsikun, pensiunan Perhutani KPH Banyumas Timur

Oleh: Ossario Hussein

Kami melepas lelah setelah menanam Kacang Pintoi (Arachis pintoi), tanaman yang kami budidayakan untuk menggantikan gulma invasif Seruni Rambat (Sphagneticola trilobata).

Pak Narsikun (65 tahun), pensiunan Mandor Tebang Perhutani, mulai membuka bekal makan siangnya. Ia mengeluarkan kotak makan biru tua berisi orek tempe dan tumis kacang panjang, ditemani sedikit sambal.

“Biar ada pedasnya,” ujarnya pelan.

Di sebelahnya, Pak Bawor (70 tahun) turut bergabung, membawa bekalnya sendiri: tumis kangkong, telur dadar, dan sambal. Sementara mereka berdua makan, aku hanya menemani, sembari berbincang santai.

Ada rasa penasaran yang sudah lama ingin kutanyakan kepada Pak Narsikun: mengapa setelah pensiun ia masih ingin menanam di kawasan hutan Baturraden? Apakah ia tidak merasa bosan setelah puluhan tahun bekerja di wilayah yang sama? Atau mungkin sebaliknya, ia justru menemukan ketenangan jiwa saat menanam?

Rasa penasaran itu membuatku merenung. Aku teringat pemikiran Masanobu Fukuoka dalam Revolusi Sebatang Jerami: tujuan pokok bertani bukanlah menanam tanaman, melainkan membudidayakan dan mengangkat harkat manusia. Suatu pertanian yang memenuhi kebutuhan badan dan jiwa secara keseluruhan. Kita hidup bukan karena roti (uang) saja.

Di era digital ini, saat waktu kerja manusia diukur dengan uang, Pak Narsikun mungkin sudah terlepas dari alienasi merunut pemikiran Marxian—kondisi di mana pekerja terasing dari pekerjaannya sendiri; pekerjaan yang seharusnya menjadi esensi manusia, justru menjadi kekuatan yang menindas.

Atau, mungkin… mungkin saja karena kitas sedang berbicara dan turut serta Pak Bawor yang acap membumbui percakapan dengan mistis Gunung Slamet, jangan-jangan ada “penunggu” yang ingin dia jumpai. Ah, Pak Bawor ini selalu saja membawa nuansa alam gaib!

Sekali lagi, ini semua hanya hipotesa awal dalam pikiranku.

Sendok demi sendok lauk menemukan tempatnya. Suara Pak Narsikun mulai mengalir. Ia bercerita: ketika muda, ia melakukan bakti.

Sebuah istilah yang terasa asing di abad modern, yang kini maknanya direduksi dan disamakan dengan magang.

Magang. Sebuah kata yang mencerabut makna budaya. Magang menemukan esensinya dalam hubungan produksi antara pemilik usaha dan pekerja. Ia adalah justifikasi untuk animal laborans (hewan yang bekerja)—konsepsi terendah dalam pemikiran Hannah Arendt—aktivitas yang dilakukan manusia sekadar demi kelangsungan hidup.

Sementara, bakti (bekti) dalam filsafat Jawa adalah ketaatan, pengabdian, hormat, dan kesetiaan yang tulus. Ini adalah etika sosial dan spiritual yang mengatur hubungan manusia secara vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (dengan sesama): bakti kepada orang tua, guru, pemimpin, dan puncaknya kepada Sang Pencipta.

Makna bakti itulah yang dihidupi Pak Narsikun di tahun 1979. Saat itu, ia muda, tulus bekerja menemani Pak Tawin, ayahnya, yang juga seorang Mandor Tebang di Perhutani.

Tawin. Nama yang baru pertama kali aku dengar.

Ternyata, “Tawin” berasal dari bahasa Jawa Kawi, bahasa sastra yang digunakan pada masa kerajaan Hindu-Buddha abad ke-8 hingga ke-15. Nama itu adalah nama seorang pria yang berarti “saling melindungi”.

Nama yang indah. Doa orang tua yang mengiringi jejak langkah hidup anaknya: saling melindungi, melindungi hutan Gunung Slamet. Ah, betapa besarnya budaya bangsa ini hanya untuk sebuah nama.

Merenungkan hal ini, aku menyadari bagaimana kata, kalimat, dan bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah struktur fundamental yang membangun cara manusia memahami realitas, pikiran, dan kebenaran.

Perbincangan singkat itu membawa permenungan yang dalam. Aku melontarkan satu pertanyaan akhir.

“Pak Narsikun, adakah tanaman yang mengingatkan Bapak di sini?” ucapku.

Sembari menunjuk, ia berkata, “Tepat dua puluh meter dari tempat kami duduk. Itu 15 tahun lalu. Saya yang menanamnya.”

Damar usia 15 tahun. Penanam: Narsikun.

Di sana, berjejer pohon Damar dengan diameter sekitar 10 cm. Tepat di baris lain, berdiri tegak pohon Damar raksasa dengan diameter mungkin lebih dari 3 meter.

Aku melangkah menuju pohon-pohon kecil yang ia maksud untuk memastikan. Sembari melambai dari kejauhan, aku berseru, “Apakah benar pohon ini?”

Lambaian tangan Pak Narsikun memberi tanda: benar.

Pak Tawin. Pak Narsikun. Dua generasi rimbawan Perhutani. Terima kasih telah memelihara pohon Damar kecil yang kini terus tersenyum, dan pohon Damar besar yang menuntun tenang, tetap berdiri gagah di hutan Baturraden.

Related posts

Dialog Bencana Makelar Kopi dan Ksatria Gila

Baturraden Antara Harmoni dan Murka Serayu

Perjumpaan Saninten