Perjumpaan Saninten

Kabut di Kaki Bukit Gunung Slamet

Saninten memiliki julukan lain Fagus argentea Blume, dan dengan ketelitian berujung Castanea argentea Blume. Nama Blume, seperti akarmu, kekal dalam sejarah.

Oleh: Ossario Hussein

Siang itu, sehabis gerimis dan ketika selimut kabut tak kunjung sirna di Baturraden, aku memandangi pohon raksasa yang menjulang megah, tepat di depan greenhouse kami. Ditemani teh panas yang setia memeluk cangkir, aku lekat mengamati pohon itu. Diameternya lebih dari tiga meter, tingginya sekitar sepuluh meter, dengan puncak batang yang jelas pernah disentuh petir—sebuah mahkota yang patah, entah seberapa tinggi ia sebelumnya.

Meskipun menyimpan luka, kau tetap kokoh, seperti tiang waktu, berdiri di tepi Sungai Pelus. Sudah hampir delapan bulan aku di sini, namun belum sekali pun kau memunculkan isyarat bunga. Bunga yang baru kutahu berwarna kuning keputihan, bunga-bunga kecil dalam untaian panjang dan ramping yang menjuntai seperti untaian janji dari ranting. Aku akan tetap menunggu.

Tapi, hari ini bukan sepenuhnya tentangmu. Ini tentang Carl Ludwig Blume, botanis kelahiran Braunschweig, Jerman, yang menghadiahi namamu dalam sejarah keilmuan. Penyelidikan tentangnya membawa kapal imajinasiku melayang, merenungkan bagaimana manusia mampu bertahan dalam badai keterbatasan. Dalam brutalitas “penghisapan manusia atas manusia”—kolonialisme dan imperialisme—selalu ada titik-titik cahaya yang mampu mengoyak kabut hingga lenyap, membawa terang kembali.

Blume lahir tanpa sempat menatap sosok ayah yang telah tiada. Entah karena wabah cacar (smallpox) atau kolera yang saat itu mewabah, penyebab pastinya tak diketahui. Lima tahun berselang, ibunya turut kembali ke pangkuan bumi. Yatim piatu, ia harus memperjuangkan nafas hidup sejak usia lima tahun.

Eropa saat itu bukanlah Eropa hari ini, dengan kebijakan negara yang mapan mengurus kesejahteraan warganya. Era Blume adalah panggung kekacauan, teror, dan pembersihan; era yang dijuluki ‘musim semi rakyat’ (springtime of the peoples). Batasan identitas antar sesama manusia begitu kontras: putih-hitam, miskin-kaya, bangsawan-kaum papa. Namun di sisi lain, batasan itu sedikit demi sedikit dilunturkan oleh kemarahan tiang gantung dan pancung.

Penjarahan menjadi gema atas kemarahan kaum papa terhadap bangsawan dan raja. Begitu pula dengan penyakit, yang menjadi hakim agung, tak takluk oleh kelas atau identitas manusia—ia tak mengenal raja, bangsawan, ataupun kaum papa. Semua sama di mata pandemi yang merajalela. Kekuatan alam bekerja, menyapu kotoran yang mengerak, sebuah era pembersihan.

Blume mewujudkan transmutasi kelas, beranjak dari kemiskinan melalui kekuatan pendidikan. Semangat keberanian perlawanannya terpantik di usia remaja 17 tahun. Bersama kaum terdidik nasionalis Jerman, ia turut andil sebagai unit relawan militer ‘Lützowsche Jägercorps’ dalam satuan tenaga medis. Ini adalah gerakan pembebasan kaum terdidik yang tercerahkan; tindakan yang terdorong oleh otoriterian penguasaan kesatuan Eropa oleh Napoleon Bonaparte.

Obor semangat inilah yang mengantarnya ke Hindia Belanda, dan akhirnya mengukirnya menjadi botanis di Kebun Botani Bogor (‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg). Di sana, ia menghabiskan sebagian besar waktu untuk mengurai rahasia flora di pegunungan Jawa, khususnya Gunung Gede Pangrango.

Mungkin Blume, sama seperti aku, pernah duduk terpaku, ditemani secangkir teh panas, di bawah selimut kabut tebal Gunung Gede Pangrango. Matanya menatap dengan teliti, memperhatikan tiap jengkal dirimu. Ya, menatapmu, Saninten.

Dari negara belahan bumi Eropa, kekaguman dan semangat ilmu pengetahuan merangkai dengan cermat, hingga nama Saninten memiliki julukan lain Fagus argentea Blume, dan dengan ketelitian berujung Castanea argentea Blume. Nama Blume, seperti akarmu, kekal dalam sejarah.

Related posts

Dialog Bencana Makelar Kopi dan Ksatria Gila

Baturraden Antara Harmoni dan Murka Serayu

Gondorukem 100 Tahun Atau Lebih