Sungguh ajaib pohon ini. Ia seolah meminta kita bersabar dan berusaha sedikit lebih keras, sebelum akhirnya memberikan hadiah terbaiknya.
Oleh: Ossario Hussein
Nama itu telah menjadi poros tunggal dalam daftar pencarianku selama tiga minggu terakhir. Misi ini lahir dari sebuah keminatan, bahkan nyaris obsesi, terhadap penyelidikan pohon-pohon lokal yang lenyap—ditebang habis—ketika ladang-ladang perkebunan kolonial pertama kali menjejakkan kakinya di Tanah Jawa. Area Hutan Gunung Slamet, termasuk Baturraden tempatku menghabiskan hari-hari ini, adalah pusat dari segalanya.
Aku menjumpai Pak Broto, mantan Administratur Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Banyumas Timur, yang kucurigai menyimpan serpihan memori tentang masa lalu hutan ini.
“Apakah Bapak pernah menemukan pohon itu di sekitar sini?” tanyaku hati-hati. “Dan, mungkin ada orang yang bisa membantu saya untuk menemani pencarian di dalam hutan?”
Pak Broto menarik napas tenang, sorot matanya yang sepuh menerawang sejenak. “Dulu pernah lihat, Mas. Tapi sudah sangat lama. Nanti saya coba tanyakan pada rekan-rekan yang masih bertugas,” jawabnya.
Respons itu tidak menghentikanku. Sambil menunggu kabar dari Pak Broto, jari-jariku kembali menari di layar ponsel. Dan ternyata, kegaiban vegetasi tanaman di hutan justru berbanding terbalik dengan popularitasnya di dunia maya.
Di berbagai marketplace, pohon langka yang kucari untuk sejarah itu kini dijual. Ia digemari sebagai bahan bonsai.
Aku menatap foto-foto di etalase daring itu, membaca deskripsi yang membuatnya diminati. Tak heran. Karakteristik batangnya cenderung cepat membesar di pangkal, dihiasi duri-duri tajam yang memberinya kesan liar, eksotis, dan dramatis. Bentuk daunnya pun mudah mengecil melalui teknik defoliasi (pemotongan daun) dan sangat responsif terhadap pruning (pemangkasan daun) atau pembentukan kawat. Terlebih, saat berbuah, perubahan warna dari hijau muda hingga merah kehitam-hitaman makin memperindah tampilannya. Pohon yang kucari sebagai korban sejarah, kini kembali dicari, dimuliakan, sebagai mahakarya seni.
Perjumpaan dan Keraguan
“Masa iya, harus lewat pasar daring? Benda sejarah seperti ini harus kubeli?” bisikku, menggerutu pada diri sendiri. Pikiran itu terus berputar, menjadi beban yang menggelayuti setiap langkahku.
Aku tak mau menyerah pada solusi artifisial. Satu per satu, aku mulai bercerita tentang pencarian ini kepada rekan-rekan yang sudah lama menetap dan berkegiatan di Baturraden Adventure Forest.
Sampai Ibu Wati, seorang rekan, dengan santainya, menunjuk ke sudut petak penanaman Arachis pintoii.
“Ada, Mas! Itu dia, di tempat Mas menanam.” Ia menunjuk pohon tinggi yang menyendiri dari ragam pohon lainnya.
“Itu pohon yang dicari. Dulu buahnya merah-merah kecil. Sayang, kini sudah tak berbuah lagi.”
“Eureka!” seruku, nyaris tak tertahan. Tiga minggu pencarian. Tiga minggu harapan yang terombang-ambing, kini terjawab dalam sekejap.
Ada benarnya, keberuntungan selalu menyertai mereka yang tak kenal lelah. Rasa gembira, lega, dan puas bercampur aduk membanjiri dadaku. Aku bergegas menghampiri pohon itu. Tingginya menjulang, mungkin lebih dari tujuh meter. Pohon tua yang batangnya diselimuti lumut tebal, dan dedaunannya menunjukkan warna cokelat kusam akibat jamur, berselingan dengan sisa-sisa helai hijau yang masih bertahan.
Namun, euforia itu tiba-tiba terhenti.
Duri Pohon Rukem
Aku menyentuh batang itu, mengusap lapisan lumutnya, dan merasakan keraguan yang tajam menusuk. Semua ciri lain yang menunjukkan pohon yang kucari—ukuran, lokasi, hingga pengakuan rekan—memang tepat adanya. Tapi ada satu hal yang hilang, kontradiksi fatal dari deskripsi yang kubaca sebelumnya: Batang ini sama sekali tidak memiliki duri-duri tajam.
Keajaiban Terbaik Hari Ini
Kecewa, saya merasakan semangat yang tadi membuncah kini merosot tajam. Perasaan lemas menjalar. Namun, satu harapan masih tersisa: Pak Bawor. Pria tua itu adalah kamus hidup, pustaka berjalan hutan Gunung Slamet. Dan benar saja. Hanya dengan mendengar deskripsiku, Pak Bawor mengangguk pasti. Ia pernah melihat pohon yang kucari.
Kami menuju lokasi yang ia tunjuk. Kami harus menyusuri pinggir lereng curam Sungai Pelus. Kerapatan rerambatan gulma, rimbunnya kalliandra, serta jalan setapak yang licin dan tertutup rerantingan membuatku sulit melihat tapak kakiku sendiri. Deras air sungai yang menggerus tebing setelah hujan juga menambah ancaman.
Setiap langkah adalah pertaruhan, tetapi tekadku tak mengendur. Setelah perjuangan yang terasa tak berujung, akhirnya, aku menemukanmu. Ia berdiri tegak di lereng curam menghadap menantang derasnya Sungai Pelus, akarnya mencengkeram tebing. Aku bahkan tak sanggup memeluknya. Batangnya condong ke sisi jurang, tetapi tumbuh kokoh, menunjukkan kegigihan luar biasa di tengah himpitan alam yang sesak.
Batang itu diselimuti lumut hijau dari pangkal hingga ke puncak yang menjulang setinggi kurang lebih sepuluh meter. Dan ini dia, inilah yang kucari. Duri-duri tajam, seukuran telunjuk jariku, bermunculan dari balik kulitnya yang tua.
Pohon Rukem di Baturraden Adventure Forest
Rasa girang meluap, membasuh semua rasa lelah dan keraguan yang sempat kurasakan.
“Mas, lihat,” bisik Pak Bawor, menunjuk ke atas.
“Sudah berbunga. Semoga saja bisa berbuah.”
Aku menarik napas panjang, menatap langit-langit daun yang kini dihiasi kelopak-kelopak putih mungil.
“Aihhh… lengkap sudah perjuangan hari ini,” ucapku.
Aku akan menantikan momentum tersebut. Menanti saat ia berbuah, menikmati buahnya yang terkenal sepat dan kecut. Namun, aku ingat pelajarannya: cukup dengan memijat-mijat buahnya, kita akan menghilangkan rasa itu. Sungguh ajaib pohon ini. Ia seolah meminta kita bersabar dan berusaha sedikit lebih keras, sebelum akhirnya memberikan hadiah terbaiknya.
Rukem, Ganda Rukem, atau Gerendang dalam dialek Jawa, yang secara ilmiah dikenal sebagai Flacourtia rukam—inilah spesies pohon buah langka Indonesia yang selama tiga minggu ini kucari. Akhirnya, aku menemukanmu.
Dan keajaiban terbaik hari ini: ia masih berdiri tegak di Baturraden Adventure Forest, tempat aku berkegiatan. Ini akan mempermudahku untuk memperhatikan setiap inci pertumbuhannya, memastikan ia bertahan. Keberadaanmu, Rukem, teramat penting dalam ekosistem hutan ini. Terima kasih, sehat dan teruslah bertumbuh.