Seri Pertama: Ossario Hussein
Tanaman tidak lagi tumbuh secara alami. Ia tumbuh dalam cengkeraman tangan manusia penguasa yang menghegemoni alam.
Delapan bulan lalu, di Baturraden Adventure Forest, Baturraden, saya pertama kali berkenalan dengan Damar. Pohon dengan karakter prakoso—tutur orang Jawa untuk “gagah perkasa”—tegak dan menjulang tinggi. Pohon ini dapat mencapai 45 hingga 60 meter dan berdiameter 1,5 meter, bahkan dapat mencapai enam meter, menurut dokumen A First Look At Agathis (T.C. Whitmore, Oxford University, tahun 1977). Buku itu menjadi titik awal saya untuk mengenal Damar lebih dalam.
Catatan ini sebagai perenungan, baik untuk Damar (Agathis dammara), juga tanaman perkebunan yang lain, seperti tebu, pinus, karet, atau kelapa sawit. Kehadirannya akan dituang dalam tiga babak tulisan. Pertama, mengenal identitas Damar untuk mengetahui sifat, habitat, dan prasyarat agar ia dapat tumbuh dengan baik.
Kedua, sebagai identitas, ia tidak terlepas dalam kontinuitas waktu, lintasan budaya, dan sejarah perkembangan masyarakat. Kehadirannya menjadi salah satu komoditas di era industrial awal. Jika saja saya berada di salah satu ruang pembesar di Eropa, mata memandang ke seluruh ruang: di lukisan potret Ratu Belanda; di kursi, meja, lemari, dan sebagian besar furnitur; bahkan tinta di lembar kertas, hingga surat kabar dan buku. Tentu saja industri percetakan, jantung mesin reproduksi ilmu pengetahuan dan penyokong Zaman Pencerahan—gilang-gemilang Eropa, jembatan Abad Pertengahan dan Sejarah Modern—terlapisi Damar.
Namun, orkestrasi Damar yang menghadirkan lantunan maestoso (kemegahan, kemuliaan, agung) itu beriringan dengan lantunan doloroso (penuh duka, pedih, rasa sakit yang menyayat). Dalam sorak kemenangan, tergelar kegelapan penjajahan, kolonialisme, dan imperialisme yang mengeksploitasi tiap jengkal tanah untuk menyokong peradaban sang pemenang, menghisap negeri jajahan, termasuk Indonesia.
Tanaman tidak lagi tumbuh secara alami. Ia tumbuh dalam cengkeraman tangan manusia penguasa yang menghegemoni alam. Meminjam istilah Hannah Arendt, di sinilah letak esensi manusia sebagai Homo Feber (manusia pembuat), pembeda dari alam yang pasif dan tidak berpikir. Melalui campur tangan manusia, ia mengambil alam dan mengubahnya melalui karya (work) untuk membangun peradaban.
Ketiga, era titik balik: timbul, tumbuh, berkembang, dan menghilang. Dalam periode modern, sumber daya alam menemukan nilai standardisasi baru yang lebih brutal untuk memenuhi ‘kerakusan’ kebutuhan manusia. Damar harus mampu menjawab percepatan, kelancaran produksi massal, dan spesifikasi produk yang terus berkembang menuntut efisiensi. Meski demikian, di era kejam tersebut kita masih bernapas lega. Terdapat titik terang kontemplasi esensi manusia sebagai satu kesatuan sistem ekologis yang berdampingan dengan seluruh materi yang ada di Bumi. Ada upaya mencari keseimbangan dan keselarasan. Eksploitasi akan berdampak bukan saja terhadap kehidupan manusia, melainkan juga bumi sebagai tempat tinggal bersama.
Kerja Keras Botanis
Damar, sama seperti saya (yang berasal dari Jakarta), sejatinya bukanlah penghuni asli Pulau Jawa, khususnya Baturraden. Ia adalah pendatang yang dihadirkan oleh kekuatan kolonial Belanda. Tanaman ini berasal dari Selandia Baru, Semenanjung Malaya, Maluku (Ambon), dan Filipina. Sebagai tanaman tropis, dapat tumbuh di hutan hujan dataran rendah dengan ketinggian 1.200 mdpl, bahkan di Gunung Tahan, Malaysia, dapat mencapai 1.800 mdpl. Tipe iklim basah (tipe A atau B berdasarkan klasifikasi Schmidt-Fergusson), dengan kebutuhan curah hujan 2.500 hingga 4.000 mm per tahun, dengan suhu hangat yang stabil serta membutuhkan kelembapan udara yang tinggi, khas hutan hujan tropis.
Rekam jejak Damar dibawa ke Pulau Jawa menurut catatan De Jong sekitar 1930-an. Jawa Barat, di antaranya: Gunung Gede bagian barat, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Cirebon. Jawa Tengah, di antaranya: Baturraden, Serang, Purworejo, Pekalongan, dan Probolinggo. Sementara Jawa Timur, di antaranya: Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Malang, dan Pasuruan.
Damar merupakan salah satu dari tiga belas spesies Agathis. Misalnya saja, di Selandia Baru dengan A. australis; Fiji dengan A. vitiensis; hingga Kepulauan Solomon dan Santa Cruz dengan A. macrophylla.
Pendokumentasian Agathis tersebut hasil dari kerja keras Georg Eberhard Rumphius (1623-1702), seorang ahli botani “buta” yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Ambon. Risetnya didokumentasikan Salisbury tahun 1807. Berlanjut, Otto Warburg (1900) dalam Monsunia secara rinci mendeskripsikan Agathis dammara (Damar Ambon). Kemudian, E. Meijer Drees, botanis pekerja di Herbarium Kebun Raya Bogor, menelurkan The Genus Agathis in Malaysia tahun 1940. Keduanya adalah tokoh kunci dalam mengidentifikasi Agathis dammara dan hasilnya masih menjadi rujukan hingga saat ini.
Terluas di Dunia
Memandang foto T.C. Whitmore membawa saya ingin merasakan energi, kegiatan yang dilakukannya di tahun 1970-an, mengunjungi satu demi satu wilayah hutan Indonesia, dari Sumatera hingga Papua. Mungkin saya cukup di Banyumas Timur. Terbayang kesulitan yang ditemui dengan infrastruktur jalan, rumah singgah, rumah sakit, fasilitas pendukung yang minim.
Daerah Penelitian: A First Look At Agathis (T.C. Whitmore, Oxford University, 1977).
Hal lain yang mendorong saya adalah total area Damar di Pulau Jawa sekitar 8.500 ha. Di wilayah KPH Banyumas Timur, terdapat 423 ha di Baturraden, Purwokerto, dan 3.417 ha di Serang, Purbalingga (yang merupakan 40,20% dari total di Jawa). Di tahun 1974, kedua wilayah ini adalah area terluas di dunia untuk Damar.
Napak tilas, ya, saya akan melakukan napak tilas! Dari pintu gerbang Baturraden Safari kita disambut jalan beraspal mulus hingga berlubang, dengan lebar 5 meter dan menyempit terus tersaji hingga menembus Serang. Di tahun 70-an, Whitmore bahkan mencatat rombongan kuda menarik kayu-kayu Damar. Terbayang bagaimana kegigihan mereka.
Di ketinggian 650 mdpl hingga 900 mdpl lebih, kita disuguhi barisan Damar dan Pinus, kemudian menyelimuti padat di bawahnya tanaman Pacing (Costus speciosus), kelas Pakis-Pakisan (Pteridophyta), dan hiasan tebing tertutup rerimbun Kaliandra (Calliandra calothyrsus). Salah satu tanaman yang baru ditanam untuk pakan ternak. Menggantikan tanaman pagar Orok-Orok Hutan (Flemingia congesta) yang dahulu rimbun kini sulit ditemui, menurut Bapak Broto, Pensiunan Administratur Perhutani KPH Banyumas Timur. Tanaman ini bermanfaat untuk pakan, pupuk hijauan, serta dapat mengendalikan stabilitas lahan bekas letusan gunung berapi. Dapat kita jumpai di Gunung Merapi, Jawa Tengah.
Dari perjalanan ini saya mendapatkan gambaran bagaimana mereka membuka lahan, melakukan penanaman dengan kontur tanah Gunung Slamet bagian timur. Dalam periode vulkanik muda Gunung Slamet, erupsi leleran lava menyembur ke timur, timur laut, dan utara, dan sebagian kecil ke barat laut, sehingga terbentuk bebatuan berlapis yang kita lihat sekarang ini. Banyak dijumpai lereng-lereng tajam, berbeda dengan Tegal, Brebes, Pemalang, dan Purbalingga yang dominan area datar sehingga mendukung aktivitas pertanian.
Meninggalkan Warisan
Butuh 15 hingga 20 tahun untuk menikmati resin Damar. Dalam foto Whitmore juga kita dapat melihat bagaimana proses pembenihan Damar. Mereka harus menunggu 3-9 bulan untuk mendapatkan benih berkualitas yang akhirnya tumbuh dengan baik, dipersiapkan sebagai bibit untuk dipindahkan di bedengan sampai 1 tahun lebih atau ketinggian tanam mencapai 30-50 cm. Perawatan terus dilakukan oleh tangan-tangan terampil untuk dipersiapkan memasuki lahan tanam, babak awal dari fase pertumbuhan yang panjang hingga masa penyadapan.
Masa pertumbuhan Damar menemui pembatas alaminya. Ngengat Kauri (Agathiphaga), larva dari ngengat ini memakan biji. Beberapa ilmuwan menyebutnya sebagai fosil hidup. Spesies ini mewakili garis keturunan yang sudah ada sejak zaman Dinosaurus. Serangga lain yang menyerang adalah sejenis Thrips (Oxythrips agathidis) hidup dengan memakan serbuk sari (polen) di dalam strobilus jantan (runjung jantan).
Hewan lain yang menyerang seperti: tupai, jangkrik, lebah. Di Sampit, Kalimantan, terdokumentasi pucuk pohon Damar dirusak oleh Orang Utan untuk membuat sarang.
Adapun patogen jamur yang sering dijumpai, seperti mati pucuk oleh Phytophthora agathidicida yang merusak Agathis australis (Kauri) di Selandia Baru; Corticium salmonicolor (atau Erythricium salmonicolor), atau Jamur Upas/Jamur Pink, yang mampu membunuh cabang pohon Damar di Pulau Jawa. Selain itu, terdapat juga Aecidium balance, dengan gejala warna coklat atau oranye menonjol di permukaan daun, dengan bintik-bintik pucat, menyebar ke tangkai daun dan ujung batang dan dapat menyebabkan kematian.
Semua hal tersebut harus dialami untuk mendapatkan resin Damar. Para penyadap akan menunggu 3-4 bulan mengumpulkan 0,5–1,5 kg per pohon, kira-kira per tahun mendapatkan 5 hingga 20 kg. Dokumentasi lain seperti Sistem Repong Damar di Lampung dilaporkan bisa menghasilkan hingga 50 kg per pohon.
Damar dengan kualitas terbaik, Damar Mata Kucing, harga di tingkat petani dapat mencapai Rp 17.000 hingga Rp 25.000 per kg. Adapun Damar Batu (kualitas rendah), dengan ciri sering tercampur kotoran, sering kali harganya berada di bawah Rp 10.000.
Whitmore mencatat pada tahun 1926, produksi dunia mencapai 18.000 ton, yang 88%-nya berasal dari Hindia Belanda, 7% dari Filipina, dan 5% dari wilayah yang kini disebut Sabah. Pada tahun 1941, produksi dari Hindia Belanda meningkat lima kali lipat dibandingkan tahun 1931. Hingga menjelang akhir penjajahan di periode 1936-1938, produksi dunia mencapai 43.396 ton. Di era kemerdekaan tahun 1973, ekspor Indonesia mencapai 25.000 ton dan produksi negara terbesar lainnya Filipina, yang sebagian besar diekspor ke Amerika dan Jepang, mencapai 709 ton. Dan, pengatur harga dunia di London pada musim semi 1974 adalah 60 pence (100 pence = 1 poundsterling) per kg. Keterhubungan Damar sebagai barang komoditas akan dibahas lebih lanjut di babak kedua dari tulisan ini.
Menutup tulisan singkat ini, suatu hari saya berbincang dengan Bapak Padang, peneliti di Perhutani Forestry Institute (PeFI) Baturraden. Saya mulai memahami makna kesabaran dalam penelitian. Daya upaya meneliti untuk mendapatkan bibit terbaik Damar dari seluruh Indonesia, dengan masa waktu puluhan tahun tiap bibit diujicobakan terus-menerus. Terbayang jika lebih dari 10 pohon saja dibutuhkan ratusan tahun untuk mendapatkan kualitas bibit terbaik.
Getah Damar
Rumphius, Salisbury, Otto Warburg, E. Meijer Drees. Mereka bekerja tanpa gemerlapan perkotaan. Dalam kesunyian, hembusan angin dingin, rerimbunan pohon menjulang tinggi, deras aliran sungai, dan hujan lebat hutan tropis, melalui mereka, warisan ilmu pengetahuan diperuntukkan bagi generasi selanjutnya.