Dari rasa saling berbagi Urap Sacha Inci ini, bukan hal yang mustahil kita mampu bersama-sama mengatasi gizi buruk di Kabupaten Banyumas.
Oleh: Ossario Hussein
“Saya siapkan Urap Sacha Inci agar Mas bisa merasakan apa yang kita perbincangkan sebelumnya,” ucap Ibu Mubayinah.
Ini kali kedua saya berusaha bersilaturahmi ke sana, dan menemui kesulitan. Pertama, niat saya terhambat oleh jadwal keberangkatan serta hujan yang tak kunjung usai di Jakarta, tepat saat saya berencana mengunjungi kawan di PBNU untuk berbincang tentang topik Sacha Inchi dan pemberdayaan pertanian di lingkungan pesantren.
Kedua, pagi harinya, saya, Mas Fajar, dan Mas Jhony bertolak dari Baturraden Adventure Forest. Kami hampir saja putar balik karena mobil yang kami tumpangi mogok di jalan, ditambah hujan pula! Pesan singkat segera saya kirimkan, mengabarkan bahwa kami mungkin tidak dapat datang.
Doa balasan dari Ibu Mubayinah tersampaikan, “Semoga selamat dalam perjalanan.”
Akhirnya, kami disambut dengan senyum hangat di pintu rumah beliau. Kami pun bertukar pikiran, menyampaikan maksud untuk saling belajar mengenai natural farming serta berbagi keluh kesah yang ditemui. Saya yang baru delapan bulan menjalani natural farming merasa waktu itu terhitung singkat dibandingkan Ibu Mubayinah yang telah memulainya hampir satu dekade lalu.
Saya kagum akan ketegaran beliau. Bayangkan, ia berjalan sendirian dalam dunia pertanian yang sudah terbiasa menggunakan pupuk kimia. Berbekal ketekunan, keuletan, dan kepercayaan pada ilmu pengetahuan yang dipelajari dari Prof. Shobirin dan Prof. Mubiar dari ITB (Institut Teknologi Bandung) tentang SRI (System of Rice Intensification).
SRI adalah teknik budidaya pertanian ramah lingkungan yang salah satunya memanfaatkan mikroorganisme lokal sebagai pupuk dan pestisida.
Berkat teknik tersebut, perjuangan beliau setelah berjalan dalam kesendirian kini berbuah hasil: petani di sekitarnya mulai mengikuti jejak Ibu Mubayinah. Memang, berjalan bersama itu lebih menguatkan. Hasil panen yang diterima melimpah, dan alam pun tetap terjaga.
Sebelum mencicipi Urap Sacha Inci, kami disuguhkan minuman Sirup Buah Maja. Warnanya hitam pekat, dengan rasa sedikit asam hasil fermentasi, bercampur manis—sungguh pelega di siang hari yang terik. Buah ini ternyata juga bermanfaat untuk pupuk dan pestisida.
Kami baru mengetahui bahwa Pohon Maja di pagar rumah tersebut ternyata warisan tiga generasi. Usianya sudah menyentuh satu abad lebih, berdiri di sana menjaga tradisi yang akhirnya terbukti bermanfaat. Sebelumnya, buahnya hanya dianggap kurang bermanfaat dan sering terbuang.
Hidangan urap Sacha Inchi itu bercampur dengan kacang panjang, toge, kecombrang, kencur, dan tentu bintang utamanya: daun Sacha Inchi muda. Rasanya lembut, mudah tercerna, mirip dengan daun ubi.
Daun ini pastinya adalah superfood yang mengandung Omega 3, 6, dan 9, antioksidan alami, memiliki khasiat antidiabetes, dan berprotein tinggi. Khasiat ini menjawab kekhawatiran yang kami rasakan bersama: bagaimana mengatasi permasalahan gizi buruk di pedesaan, khususnya bagi masyarakat sekitar hutan di Banyumas.
status kasus stunting menurut kecamatan di kabupaten banyumas 2024
Data prevalensi stunting dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 di Kabupaten Banyumas adalah 19,6%. Angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata prevalensi stunting di Provinsi Jawa Tengah, yang berada di angka 17,1%.
Beberapa kecamatan yang menjadi lokus prioritas penanganan stunting di antaranya adalah Kecamatan Cilongok (sebagai daerah dengan kasus stunting terbanyak), Kecamatan Sumbang (19 desa sasaran), Kecamatan Kembaran (16 desa sasaran intervensi), Kecamatan Kebasen, dan Kecamatan Baturraden (yang dilaporkan mengalami tren kenaikan kasus sepanjang tahun 2025).
Hayati5 mengolah data Baduta dan Balita Stunting Menurut Kecamatan di Kabupaten Banyumas Tahun 2024 dari Data dan Informasi Kabupaten Banyumas 2025 dalam bentuk spasial. Dengan menggunakan standar nilai rendah berdasarkan target prevalensi stunting nasional 14%, hasilnya menunjukkan:
- Kasus sangat tinggi terdapat di Cilongok, Jatilawang, Tambak, dan Sumpiuh.
- Kasus tinggi terdapat di sembilan kecamatan.
- Kasus rendah terdapat di delapan kecamatan.
- Kasus sangat rendah terdapat di empat kecamatan.
kawasan hutan menurut kecamatan di kabupaten banyumas
Apabila memperhatikan sebaran prevalensi stunting tersebut, peta kawasan hutan Kabupaten Banyumas memperlihatkan sebagian besar kasus berada di wilayah kawasan hutan. Luasan kawasan ini mencakup 18,54% dari total luas wilayah kabupaten (sekitar 139.115,30 hektar).
Sebaran Stunting dan Indeks Ketahanan Pangan Menurut Kecamatan di Kabupaten Banyumas 2024
Hayati5 kemudian membandingkan data kasus stunting dengan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) dan menemukan sebuah paradoks: Wilayah sekitar hutan (seperti Cilongok, Sumbang, Tambak, Sumpiuh, dan Kembaran) justru memiliki IKP yang tergolong “sangat tahan” dan “tahan”. Namun, wilayah-wilayah yang sama ini justru mengalami kasus stunting tertinggi.
Catatan khusus perlu diberikan pada Baturraden yang memiliki indeks “rentan”. Terdapat kemungkinan di wilayah ini telah terjadi peralihan penggunaan dan pemanfaatan lahan pertanian ke pariwisata. Hal ini perlu penelitian lebih lanjut.
Masyarakat sekitar hutan sejatinya memiliki aspek ketersediaan dan akses pangan yang baik, bahkan mungkin lebih luas dibandingkan wilayah urban di pusat Kota Purwokerto.
Meski demikian, masalahnya mungkin bukan di ketersediaan pangan, melainkan di varietas tanaman dan pemanfaatannya. Penelitian lebih lanjut diperlukan, mengingat 70% penanganan stunting adalah intervensi gizi sensitif (penyediaan akses air bersih, sanitasi, dan pelayanan kesehatan). Sementara 30% lainnya adalah intervensi gizi spesifik yang lebih menyasar ibu hamil dan menyusui.
Hayati5 menilai ketercukupan pangan harus dibarengi dengan ketercukupan gizi yang baik. Salah satunya adalah asupan protein, baik hewani yang mudah diserap tubuh maupun nabati sebagai pelengkap, seperti melalui daun Sacha Inchi.
Tanaman ini mudah ditanam di bawah tegakan hutan (agroforestri) dan dapat hidup produktif selama 20 tahun. Tiap rumah dapat menanamnya sebagai tambahan gizi. Di kawasan hutan Baturraden Adventure Forest, kami sudah menanam 1.600 pohon, berharap dapat tersebar di masyarakat sekitar hutan Baturraden. Hal ini menjadi salah satu perhatian Ibu Mubayinah dan Hayati5. Foto urap Sacha Inchi sudah kami sebar—lezat dan bergizi.
Satu hari berselang, status pesan rekan kami, Ibu Wati, menampilkan foto urap Sacha Inci buatannya. “Enak!” ucapnya. Meski tidak mencicipi, saya merasakan senang.
Ternyata benar ucap Ibu Mubayinah, saat ada rekan yang memiliki tujuan sama, hati terasa senang. Dari rasa saling berbagi Urap Sacha Inci ini, bukan hal yang mustahil kita mampu bersama-sama mengatasi gizi buruk di Kabupaten Banyumas.