Workshop Hayati5 Bersama ASB

Pendekatan budidaya pertanian berbasis sirkular berfokus pada daur ulang, penggunaan kembali sumber daya serta meminimalkan limbah dan polusi.

ASB mengunjungi kebun demplot Hayati5.

Pertanian berbasis ekonomi sirkular menjawab keresahan pegiat lingkungan atas tiga isu krisis biodiversitas global yaitu pencemaran lingkungan, perubahan iklim dan hilangnya habitat. Berseberangan dengan pendekatan pertanian linear yang bertumpu pada pola “ambil-pakai-buang” (take-make-dispose), nihil keberlanjutan serta eksploitasi sumber daya yang berlebihan dan menghasilkan limbah dan polusi. Pendekatan budidaya pertanian berbasis sirkular berfokus pada daur ulang, penggunaan kembali sumber daya serta meminimalkan limbah dan polusi.

Prinsip sistem ekonomi sirkular dengan 9R (Refuse, Rethink, Reduce,Reuse,Repair,Refurbish,Remanufacture, Repurpose, Recycle, dan Recover) sejalan dengan praktik biodiversitas yang memperhatikan segala bentuk kehidupan di bumi, termasuk tumbuhan, hewan, mikroorganisme, materi genetik, dan ekosistem. Dua pendekatan ini menjadi pondasi dalam budidaya pertanian yang sedang dilakukan di Baturraden Adventure Forest (BAF) serta digabungkan dengan metode budidaya pertanian memanfaatkan mikrobiologi lokal (MOL) khususya lokus Hutan Gunung Slamet serta menggunakan energi terbarukan tenaga air (hidro) dan surya sebagai sumber energi dalam pengolahan pasca panen pertanian.

ASB memperhatikan kebun koleksi Hayati5

Hayati5 di BAF pada bulan Agustus memperkenalkan kegiatan Budidaya Pertanian Berbasis Ekonomi Sirkular bersama Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) South and South-East Asia, organisasi kemanusiaan, non-profit, dan non pemerintah yang berkantor pusat di Jerman. Kegiatan ini bermanfaat, mengingat ASB bekerja dalam isu inklusi disabilitas, pengurangan risiko bencana, pemberdayaan sosial dan ekonomi serta aksi iklim.

Workshop terdiri dari lima tema, yaitu:

  1. Memperkenalkan keanekaragaman spesies khususnya tanaman dan pengetahuan budidaya pertanian lokal.
    Hayati5 mulai memperkenalkan kembali keanekaragaman, teknik budidaya pertanian serta manfaat dan fungsi tanaman di antaranyai; Orok-Orok Hutan (Flemingia congesta), Jali-Jali (Coix lacryma-jobi), Gembolo (Dioscorea bulbifera), dan lainnya.
  2. Memperkenalkan teknik pertanian berbasis gizi (protein, lemak, dan karbohidrat) sehat.
    Pertanian berbasis kandungan (farm based on ingredients) gizi. Tiga komponen kandungan yang diperhatikan adalah protein, karbohidrat, dan lemak. Serta waktu panen yang pendek khususnya untuk tanaman karbohidrat.
  3. Memperkenalkan teknik pertanian berbasis mikroba lokal.
    Memanfaatkan penggunaan mikroorganisme lokal lokus Hutan Gunung Slamet sebagai pupuk nabati dengan metodek pertanian Korean Natural Farming.
  4. Membuat kebun komunitas demplot percontohan ASB.
    Keterlibatan agenda yang sama diwujudkan dalam bentuk menanam Kacang Peru, merupakan varietas tanaman kacang-kacangan yang dikategorikan super food mengandung Omega-3, Omega-6 dan Omega-9.
  5. Mengunjungi Mikrohidro
    BAF mempergunakan sumber energi terbarukan dengan memanfaatkan air (hidro). Ekosistem sirkular ini dipergunakan juga dalam pasca panen pertanian.

ASB bersama Tim Hayati5 menanam Kacang Peru.

Saling berbagi potensi, pengetahuan dan kegiatan yang telah dilakukan antar jejaring dengan tujuan yang sama adalah salah satu praktik membangun penguatan jejaring kelembagaan yang perlu dilakukan. Sehingga ke depan gaung, intensitas keresahan antar entitas organisasi yang dirasakan pegiat lingkungan atas ancaman global memiliki tone yang sama di seluruh lapisan masyarakat.

Related posts

Dialog Bencana Makelar Kopi dan Ksatria Gila

Baturraden Antara Harmoni dan Murka Serayu

Perjumpaan Saninten