Denyut Bertani di Tanah Lando

Seri Perjalanan: Nusa Tenggara Timur

by hayati 5
A+A-
Reset

Oleh : Ossario Hussein


Perjalanan ini dimulai saat pesawat mendarat di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, tepat pukul 16.40. Setelah makan siang yang cukup terlambat, saya langsung menuju penginapan untuk beristirahat dan memulihkan tenaga setelah penerbangan.

Menjelang malam, tubuh memang menuntut istirahat setelah perjalanan panjang, tetapi rasa penasaran pada atmosfer kota pelabuhan ini terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja. Sebelum esok hari harus meninggalkan pesisir dan masuk ke pedalaman, saya merasa perlu menyusuri sudut-sudut kotanya sekilas, mencari ruang untuk mencerna perpindahan tempat yang begitu cepat ini.

Menyisir Kampung Ujung

Malam harinya, saya menyempatkan diri berjalan-jalan singkat untuk melihat denyut kota pelabuhan ini. Saya singgah di kawasan Kampung Ujung, menikmati suasana malam yang ramai sambil mampir di sebuah kafe bernuansa Jerman, menikmati renyahnya schnitzel ditemani secangkir kopi hangat. Suasana perkotaan yang hidup hingga pukul 23.00 ini menjadi transisi sebelum keesokan harinya saya harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih lima jam menuju kawasan pedalaman Manggarai.

Desa Waning menjadi perhentian pertama dalam perjalanan ini. Namun, tak banyak yang dapat kuceritakan; aku akan bertahan 10 hari di sini, sementara kunjungan utamanya baru akan penuh terajut dua puluh hari kemudian setelah melalui Desa Pacar dan Desa Lando. Akan kutemui kisah hidup yang aku sendiri tidak dapat menerkanya. Menanti.

Desa Lando, ya di sinilah 10 hari pertamaku di Manggarai. Setibanya di sana, memori saya langsung tertarik kembali ke Baturraden, Jawa Tengah, mengingat kenangan saat memberikan sesi les menggambar terakhir kepada anak-anak. Meskipun jarak geografisnya ribuan kilometer, ekspresi dan tatapan lugu anak-anak di Desa Lando menghadirkan kesan yang sangat mirip dengan anak-anak di kaki Gunung Slamet.

Bahkan di tengah dunia pariwisata sekalipun, selalu ada denyut aktivitas membudidayakan dan menyentuh tanah sebagai sumber penghidupan. Hal yang sama juga hidup di Desa Lando yang berada di luar riuhnya wisata, meski hanya berjarak sekitar dua jam dari Labuan Bajo.

Aktivitas tersebut langsung terlihat di sekitar lingkungan tempat tinggal warga Desa Lando. Di lereng bukit yang curam—dekat sebuah gereja dan pohon-pohon jambu mete yang belum berbuah—seorang ibu dan anaknya tampak telaten memetik daun singkong muda, jemari mereka bergerak lembut menyapu rerimbunan pucuk hijau. Di bagian lereng bawah, petak-petak bedeng tanah kering terbentang; di sanalah sayuran sawi, pare, dan kangkung tumbuh subur, seolah-olah tanaman-tanaman itu berjuang gigih melawan keringnya bumi demi menghidupkan harapan.

Denyut dan Nafas Tanah 

Desa Lando memperlihatkan bagaimana aneka komoditas—mulai dari sawi, kangkung, pare, cabai, durian, pisang, ternak babi, kambing, domba, aren, mete, vanili, hingga porang—tetap tumbuh dan dikelola oleh warga setempat di tengah berbagai tantangan dan kesulitan alam yang menyertainya.

Durasi 10 hari tentu merupakan waktu yang sangat singkat untuk memahami kompleksitas kehidupan sosial dan ekologis di Manggarai, apalagi jika dibandingkan dengan potensi ratusan hari observasi. Catatan hari ini tidak lebih dari sekadar merekam apa yang mampu aku amati. Esok pagi, aku perlu menggenggam tanah Lando dengan lebih erat, menajamkan mata untuk melihat lebih cermat, dan membiarkan seluruh indra bekerja dalam napas yang sama untuk menangkap setiap makna yang terhampar.