
Menjadi pemulung bukan pilihan. Itu adalah sebuah ilusi pilihan; ia bukan lagi sebuah pilihan, melainkan mekanisme bertahan hidup yang mutlak.
Oleh: Ossario Hussein
Jakarta. Selasa, 23 Juni, adalah hari terakhir saya mengajar melukis sebelum berangkat ke Jakarta. Ada kebahagiaan tersendiri melihat anak-anak menuangkan imajinasi dan kreativitas ke dalam lukisan di Baturraden.
Jemari Warna di Baturraden
Jari-jemari mereka perlahan membentuk bunga dalam vas dengan warna-warna yang mewujudkan keinginan mereka menjadi nyata. Itu bukan lagi sekadar sebuah benda, melainkan sebuah cipta yang mereka wujudkan sendiri.
Perjalanan kemudian membawa saya berpindah, meninggalkan sejuknya hijau pegunungan menuju bentangan beton Jakarta yang bergegas. Namun, bayang kebahagiaan anak-anak yang melukis itu tetap lekat, menjadi penyemangat bahwa kita akan bersua kembali.
Deru Mesin dan Ilusi Pilihan
Hari ini, Jumat, saya berkunjung ke tempat pengelolaan sampah di Jakarta. Deru mesin yang gagah menyambut kami. Sesekali bau menyengat, hawa panas, dan lincahnya lalat mencoba bersahabat menyapa: Selamat datang di tempat kami. Salam lalat yang berhamburan menghampiri kami.
Jika di Baturraden jemari anak-anak menari di atas warna-warni cerah, di sini, pemandangan berganti menjadi abu-abu kusam, cokelat tanah, dan hitamnya plastik limbah kota. Seorang perempuan berkaos merah dan bermasker—usianya mungkin dua puluh atau mendekati tiga puluh tahun—berdiri di sana. Di depannya, seorang pria muda dengan tangkas memilah sampah dari konveyor yang terus berjalan tanpa kenal ampun.
Jari-jemari mereka begitu tangkas memasukkan sampah yang berguna ke dalam kantong plastik besar. Jika ada yang lalai atau terlewati, di sebelahnya seorang perempuan lain sudah siap menyisir sampah tersebut tanpa kenal ampun. Demikian seterusnya, konveyor terus berjalan melewati lebih dari dua puluh orang seperti lingkaran tak terputus, menantang kekuatan mesin.
Secara biologis, tidak ada perbedaan antara keduanya—antara anak-anak yang memegang kuas dan para pekerja di depan mesin ini. Keduanya patuh terhadap hukum fisika dan biologi. Keduanya menggunakan sistem saraf, otot, dan reseptor propriosepsi yang sama persis. Korteks motorik mengirim sinyal, saraf tepi merambat secepat kilat, dan jemari menekuk secara presisi.
Namun, di depan mesin konveyor, gerakan para pemilah dikuasai oleh waktu. Mesin itu menuntut fokus, kewaspadaan, dan gerakan repetitif agar tidak ada satu pun sampah yang terlewatkan dan tangan tidak terluka. Gerakan mereka bukan dipandu oleh imajinasi, melainkan oleh tuntutan bertahan hidup; memisahkan sisa-sisa konsumsi kota di antara deru mesin. Bagi anak-anak di Baturraden, gerakan jemari mereka barulah sebuah bentuk ekspresi, kebebasan, dan masa kanak-kanak yang utuh.
Andai dapat memilih, niscaya sebagian besar dari hasrat manusia lebih memilih kenyamanan dan kebahagiaan melukis. Namun, digdaya tubuh secara alamiah memberikan kekuatan berupa pembelajaran untuk bertahan hidup dan menemukan kenyamanan di dalam ketidaknyamanan. Kemampuan beradaptasi dari bau menyengat, risiko jari-jemari terluka, dan hawa panas bukan lagi sebuah pilihan, melainkan ketiadaan pilihan.
Menjadi pelukis, administratur swasta, pejabat, atau pekerjaan lain yang berjarak dari aroma sampah adalah sebuah pilihan bagi mereka yang beruntung. Namun, di seberang yang lain, realitas yang berbeda sudah menunggu: memilah sampah dan bisa makan hari ini, atau berhenti dan membiarkan keluarga kelaparan. Itu adalah sebuah ilusi pilihan; ia bukan lagi sebuah pilihan, melainkan mekanisme bertahan hidup yang mutlak.
Mimpi di Balik Sarung Tangan
Dalam perjalanan pulang, saya bergegas menuliskan pengalaman ini. Ada ketakutan dalam diri jika detail-detail kecil ini memudar, atau keresahan atas kontras tajam yang baru saja saya saksikan menguap begitu saja ditelan hiruk-pikuk kota. Sebelum ingatan ini menghilang, saya harus menuangkannya; bahwa manusia seharusnya memiliki pilihan yang bebas dari hati. Mas Jo, pemilik usaha ini, menyampaikan sesuatu yang masih saya ingat:
“Perbedaan orang miskin dan kaya adalah rentang pilihan. Semakin kaya, semakin banyak pilihan.”
Apakah menjadi pemulung adalah pilihan? Menjadi pemulung bukanlah pilihan bebas mereka. Menjadi pemulung adalah tombak yang tertancap, rantai besi yang mengikat kuat, dan jawaban logis manusia atas realitas yang keras untuk menemukan kenyamanan di tengah ketidaknyamanan.
Jari-jemari mereka tidak memilih konveyor; jari-jemari mereka tidak pula memilih untuk menggenggam kuas lukis atau pena kekuasaan yang bisa menentukan nasib sendiri. Keadaanlah yang menuntun mereka memeluk sampah Jakarta. Yang pasti, dalam keterbatasan yang menghimpit, pilihan mereka adalah tidak menyerah. Di sana, terdapat percikan jiwa yang mengambil keputusan untuk bertahan dengan bermartabat tanpa menjual moral dan adab.
Aku memandang di antara dua puluh sekian orang dalam rantai konveyor itu. Di sana, di balik sarung tangan yang kotor, terdapat mimpi masa kecil yang serupa dengan anak-anak di Baturraden: jari-jemari mereka menggenggam kuas, menari, dan memadukan warna di atas kertas lukis.