
Menanam adalah ritme merawat kehidupan itu sendiri. Dari kebaikan tanahlah mereka bernapas, dan dari sanalah mereka bertahan.
Oleh: Ossario Hussein.
Kemuning. Tujuan akhir, tempat berlabuh setelah berkendara 12 jam dari Purwokerto. Sebuah perjalanan lambat yang memakan waktu dua kali lebih lama dari seharusnya, beda tebal memang antara pengendara yang mengejar waktu dengan kebiasaan bagi penikmat jalan yang sulit dihapuskan atau memang saya tak terbiasa membawa kendaraan dengan laju yang cepat.
Daryanto. Sahabat yang sudah saya anggap keluarga. Dialah alasan mengapa saya ingin menuju dan tinggal di sini, meski saya memiliki keluarga di Solo dan Wonogiri. Kemuning memang memiliki daya magis tersendiri bagi jiwa saya.
Kacang Sacha Inchi, harapan dan impian yang saya bawa dari Baturraden, semoga bisa membawa manfaat bagi Kemuning yang saya cintai. Bayangan tentang gizi buruk serta tingginya angka kematian ibu dan bayi—hal yang tak pernah terpikir akan terjadi di sini—menjadi pemantik riak di kepala.
Kemuning dan Baturraden sejatinya mengembuskan napas kehidupan yang sama: Pariwisata. Keduanya sama-sama hidup di bawah kaki gunung. Jika Baturraden bersandar pada kedahsyatan Gunung Slamet, Kemuning merapat di sisi barat Gunung Lawu.
Hal pertama yang saya lakukan setiba di Kemuning, tepat ketika jarum jam menunjuk sekitar pukul empat sore, adalah memacu sepeda motorku ke atas, terus ke atas. Di titik tertinggi itu, sejauh mata memandang, Kota Karanganyar terhampar bebas tanpa sekat, hanya ada titik-titik hitam, merah, abu-abu, dan aneka warna permukiman yang melebur magis dengan hijaunya alam, berpadu tanpa pembatas dalam pelukan sang waktu.
Senja Jingga dan Luka yang Mengernyit.
Langit sore itu mulai berganti rupa, melukiskan semburat jingga yang hangat di hamparan awan. Guratan warna keemasan tersebut turun perlahan, menyelimuti puncak-puncak bukit dan memberikan nuansa syahdu yang menenangkan jiwa yang lelah setelah perjalanan panjang.
Musim kemarau, Gunung Lawu menghembuskan hawa dingin yang mulai menggigit seakan terkalahkan oleh keindahan sinaran senja, menahan langkah saya untuk tetap diam dan terpaku menatap pesona Kemuning di jam empat sore. Hanya saja, terselip satu keresahan: apakah tempat ini akan tetap bertahan 5, 10, 15, atau 20 tahun lagi? Entahlah.
Kebun Teh Kemuning kini sedang berlomba, menahan gempuran tiang-tiang beton. Lereng-lereng hijau yang dulu sunyi, perlahan tapi pasti berganti rupa menjadi deretan penginapan, rumah, dan kafe yang menjajakan jualan berupa keindahan alam. Kepenatan kota dan pisau kesibukan seakan sirna di sini, meskipun di saat yang sama, kedamaian alaminya perlahan berganti rupa, bersiap mengenakan wajah gemerlap kota.
Di balik riuhnya perubahan itu, pada barisan tanaman teh yang merunduk di perbukitan ini, bersemayam selimut air alami yang menjadi berkah dan anugerah bumi. Namun kini, ketika teh mulai hilang, sirna pula mata air kehidupan kami; menyisakan keluh kesah warga yang menyaksikan air tak lagi mengalir jernih. Kebun teh yang menjadi simbol kejayaan trah Mangkunegaran ini sekarang mengernyit luka; terjebak dalam pusaran kalkulasi rugi-laba bisnis yang menjadi buah simalakama bagi siapa saja yang mencintai alam raya ini dengan mata terbuka.
Ritme Kehidupan dan Harapan yang Ditanam.
Tanpa sadar, lebih dari setengah jam saya hanya duduk termenung memandang. Cipratan air dari sprayer ladang bawang tiba-tiba menyapa, memecah lamunan. Maaf, saya kurang jeli memperhatikan ladang bawang hijau yang sedari tadi menyembul dari balik selimut mulsa plastik.
Ya, kini saya memperhatikannya dengan lekat. Dan hal inilah yang rupanya mengalirkan rasa tenang. Di Kemuning, tiap rumah dengan lahan sekecil apa pun pasti ditanami sayur-mayur; timun, caisim, cabai, hingga labu. Ada juga tanaman bunga, pohon pisang, mangga, dan sisa-sisa kejayaan cengkeh masa lalu.
Ketenteraman yang hadir karena di sini tanah tidak dibiarkan mengeras menjadi kapling sunyi atau sekadar saksi bisu yang gersang. Masyarakatnya begitu dekat, memeluk hidup dari tanah. Tangan-tangan mereka menyatu dengan bumi yang memberikan penghidupan. Bagi mereka, menanam bukan sekadar perkara menumbuhkan benih dan mengejar kepuasan hasil panen. Menanam adalah ritme merawat kehidupan itu sendiri. Dari kebaikan tanahlah mereka bernapas, dan dari sanalah mereka bertahan.
Suatu saat nanti, saya bermimpi akan melihat Kacang Sacha Inchi tumbuh di sana. Saya sudah menyiapkan satu plastik besar penuh, kurang lebih satu kilo benih. Dua puluh tahun atau bahkan lebih, kacang ini akan bertahan. Setidaknya, mereka dapat memberikan ketahanan gizi yang diperlukan oleh tiap-tiap rumah. Itulah harapan yang ingin saya tanam bersama benih-benih ini. Semoga.
Kemuning, tetap bertahanlah ya. Saya akan terus datang dalam keheningan, menanti kacang-kacang ini tumbuh, mekar, dan berkembang.