
Oleh: Ossario Hussein
Mungkin kita lupa, atau sengaja menutup mata, bahwa pada hakikatnya sifat dasar manusia adalah binatang.
Rekan Hayati Lima, ini kisah perjalanan kedua ku.
Menuju Tlobong: Harapan Petani Amatir
Kemuning, pukul 14:10 WIB. Motor ini sudah tidak sabar melaju menuju Desa Tlobong, Delanggu, Klaten, untuk menemui sahabatku, Zul, yang kini mulai akrab dengan dunia pertanian cabai.
Selain rindu kawan lama, ada maksud lain yang sudah lama terpendam di kepala: saya ingin melarutkan diri dalam keheningan Kirab Satu Suro di Keraton Surakarta. Sebuah momentum sakral yang lahir dari perenungan mendalam Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raja Mataram Islam) pada tahun 1633 Masehi.
Sebelum perjumpaan itu terjadi, saya menyempatkan diri menyempil di Cafe Saestu Laweyan. Menggenggam secangkir kopi panas ringan, saya mencoba menyelam dalam selimut ornamen vintage yang disuguhkan ruangan.
“Ahh, hampir delapan bulan rasa hilang ini terobati.”
Hampir tiga tahun sudah saya bersahabat dengan Zul. Hingar-bingar pekerjaan di Jakarta rupanya tak lagi menggoda dirinya. Zul memilih pulang untuk bertani cabai, sementara saya memilih bersemayam di Baturraden, berkutat dengan tanah dan hal yang sama. Persahabatan kami kian lekat, diikat oleh Pupuk Hayati Baturraden yang kami gunakan. Tentang formula pupuk ini, mungkin akan saya ceritakan secara terpisah.
Zul dan saya bisa dibilang petani amatiran, pendatang baru yang hanya bermodalkan kenekatan dan segudang harapan. Menanti dan merasakan tanaman bertumbuh—hingga gemerlap warna cabai yang memerah bak lampu pijar—adalah obat kegembiraan yang paling mujarab. Sama halnya dengan kepuasan saya ketika melihat Pupuk Hayati Baturraden benar-benar membawa manfaat bagi petani.
Ketika Jerih Payah Dijarah
Namun, kegembiraan di Tlobong siang itu sirna seketika. Tangan-tangan maling mencerabut dan membabat sebagian hasil jerih payah keringat yang tertumpang pada pohon-pohon cabai. Kepedihan di perkebunan ini baru saya ketahui justru ketika harga cabai di pasaran sedang melambung tinggi. Di Tlobong, harganya sudah menyentuh 51 ribu rupiah per kilogram.
“Ahh, dasar maling!”
Tak terasa waktu bergeser mendekati prosesi Kirab Satu Suro. Saya memacu motor menuju Solo membawa rasa kesal dan jengkel yang bergelayut berat di pundak.
Malamnya, saya duduk di pinggiran Jalan Slamet Riyadi. Memandang iring-iringan “awan hitam” manusia berpakaian adat yang berjalan tanpa gemuruh. Langkah mereka diam, dipimpin oleh sekawanan kerbau bule keturunan Kyai Slamet dan deretan pusaka sakral Keraton Solo. Wangi bunga dan asap kemenyan pekat membungkus ribuan manusia yang menyemut. Satu Suro, sebuah malam penyatuan tahun baru Jawa dan Islam (Muharram).
Gagal Menemukan Keheningan
Kali ini saya tidak lagi duduk diam. Saya berdiri tepat di samping Patung Slamet Riyadi, berhimpitan dengan manusia-manusia yang tidak saya kenal. Kami tidak saling menyapa, mereka hanya berbaik hati mempersilakan kedua kaki saya menapak ringkih, dan sesekali tangan ini terpaksa berpegang pada pundak asing mereka demi menahan badan agar tidak terjatuh saat mengabadikan momen.
Iring-iringan kirab terus berjalan melesat dalam senyap. Namun, rasa kesal masih menjalar hebat di dada jika mengingat nasib yang menimpa Zul.
“Maling!” batin saya memaki lagi.
Baru saja di level pusat kita disuguhkan oleh tontonan maling yang dilakukan para pejabat, ternyata di kelas bawah, rakyat kecil pun melakukan hal yang sama. Memangsa dengan rakus antar-sesama anak bangsa.
Dari ritus Suroan ini, sebenarnya kuharap bisa merengkuh esensi tepo seliro (refleksi diri), mesu budi (mengendalikan hawa nafsu), dan berdiam diri sebagai bentuk penguasaan ego. Sebuah upaya untuk menyapa batin bahwa kita hanyalah makhluk kecil bagian dari alam semesta.
Namun, apakah mereka yang duduk berdiam di sepanjang Jalan Slamet Riyadi ini mendapatkan kebatinan yang sama? Entahlah. Yang jelas, malam ini saya merasa gagal mencapai keheningan yang saya inginkan.
Saat Manusia Kembali Menjadi Binatang
Saling memangsa sesama anak bangsa kini menjadi lanskap yang terlalu sering kita jumpai. Maling kecil, maling besar. Perilaku ini bukan saja mencerabut barang berharga milik orang lain, tetapi jauh lebih mendasar: mencerabut nilai kita sebagai manusia.
Mungkin kita lupa, atau sengaja menutup mata, bahwa pada hakikatnya sifat dasar manusia adalah binatang. Hanya akal, moral, dan adablah yang selama ini menjadi rantai pengikat agar insting liar itu tidak keluar menjarah. Ketika rantai itu putus—baik karena keserakahan di kursi kekuasaan maupun ketamakan di ladang cabai—manusia kembali ke bentuk asalnya: menjadi binatang yang memangsa sesamanya tanpa belas kasihan.
Di akhir barisan iring-iringan Kirab Satu Suro, saya hanya bisa menatap Patung Slamet Riyadi yang berdiri gagah. Tangannya lantang menggenggam senjata. Kiranya, biarlah senjata itu terlontar ke arah para maling dalam keheningan—ketika adab tak lagi memiliki makna, dan manusia telah sepenuhnya menjadi binatang.