
Oleh: Ossario Hussein.
Temanggung sebenarnya adalah sebuah kisah sukses yang nyata lewat Program Anting Emas (Ayo Cegah Stunting dengan Program Inovasi Kesehatan).
Purwokerto. Pada bagian pertama kisah ini, selepas subuh saya memacu sepeda motor dari Purwokerto menuju Kemuning. Namun, ada satu detail penting yang belum sempat saya ceritakan: di dalam tas, saya membawa benih Sacha Inchi. Benih-benih itu sengaja saya siapkan untuk para sahabat di Kemuning dan sekitarnya.
Ini adalah pemenuhan janji lama, sekitar enam bulan lalu. Saya pernah berjanji kepada mereka untuk membudidayakan Kacang Sacha Inchi demi ketahanan gizi masyarakat sekitar hutan, khususnya di kawasan Baturraden. Alasan mengapa saya memilih tanaman ini bisa sahabat baca selengkapnya dalam artikel di Hayati Lima yang mengulas tentang gizi buruk dan potensi besar Kacang Sacha Inchi bagi masyarakat di sekitar lereng Gunung Slamet.
Honda Win di Cafe Youngsou
Sebenarnya, perhentian di Telomoyo adalah jeda pertama saya sebelum nantinya menuju Sangiran. Awan mendung yang pekat sudah setia menemani langkah kaki saya sejak lepas dari Temanggung. Meski cuaca kurang bersahabat, saya memutuskan untuk memaksakan diri berhenti di Cafe Youngsou Telomoyo.
Pemilik kafe ini adalah seorang anak muda bernama Mas Lazit. Ia adalah seorang petani kopi, petani tembakau, sekaligus seorang “linting man”. Enam bulan lalu kami sempat bertemu. Uniknya, meski kopi dan suasana hangat di kafe ini tidak pernah berubah, Mas Lazit rupanya sudah lupa dengan wajah saya. Beruntung, motor tua yang saya kendarai bertindak sebagai pemantik ingatan yang hampir lelap. Di sinilah saya menyadari bahwa motor Win adalah ID card sosial saya—sebuah identitas visual yang langsung mencairkan jarak di antara kami.
“Oh, Mas motor Win!” ucapnya tiba-tiba.
Hahaha, ia akhirnya ingat juga! Setiap kali berkunjung ke sini, saya selalu minta diajak ke dapur Mas Lazit yang terletak terpisah dari bangunan utama kafe. Di sanalah “semesta” mereka hidup: tiga tungku besar mengepulkan asap, menggoreng kerupuk rumahan buatan sendiri yang nantinya disajikan ke kota-kota sekitar. Aroma jelaga, abu, dan kayu bakar yang bersatu dengan panasnya penggorengan—bagi saya, inilah potret kehidupan yang sejati.
Sembari memandang perbukitan, saya menelepon Mas Afri, sahabat sesama pengguna Win. Kami berbincang mengenai perjalanan saya lewat sambungan telepon yang berlangsung cukup lama, kurang lebih hingga setengah jam berselang. Di luar, awan mendung masih saja bergeming di langit, namun anehnya, rintik hujan seperti enggan untuk jatuh menyapa bumi. Cuaca yang sangat aneh, pikir saya dalam hati.
Serendipitas dan Asa dari Temanggung
Di kafe itu, ada dua orang lain yang juga sedang berteduh. Entah karena takut kehujanan atau alasan lain, salah satu dari mereka sesekali mencuri pandang ke arah saya ketika saya berjalan di depan mejanya, meskipun posisi duduknya membelakangi saya. Jujur, perasaan waswas kerap muncul di hati saya jika berhadapan dengan orang asing. Namun, prasangka saya keliru. Pria itu justru membuka percakapan dengan menegur saya. Suara dan senyumnya sangat ramah serta bersahabat.
“Mas, klub Win ya?” tanyanya.
“Iya, saya dari klub Purwokerto,” jawab saya sembari melempar senyum.
Percakapan mengalir begitu saja. Akhirnya saya bercerita tentang tujuan berkendara ke Kemuning dan misi yang sedang saya bawa ke sana. Pria itu bernama Mas Totok, seorang petani yang memiliki frekuensi dan kegemaran yang sama dengan saya dalam dunia pertanian. Tak disangka, dari obrolan acak ini, saya justru mendapati seorang sahabat baru yang ternyata sudah lama tertarik dengan tanaman Sacha Inchi. Ia mengaku sudah lama mencari informasi dan membaca berbagai sumber untuk menanamnya.
Di sinilah serendipitas bekerja dengan indahnya. Sebuah kebetulan yang menyenangkan: alam sengaja mempertemukan kami pada momentum yang sama, di bawah atap yang sama, hanya karena kami sama-sama ingin menghindari awan mendung.
“Mas Wahyu harus pulang lewat Temanggung. Nanti kita ke kebun kopi dan bertemu dengan petani-petani di sana,” ajak Mas Totok bersemangat.
Sebagai pencinta kopi, menyebarkan manfaat Sacha Inchi kepada para petani adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya. Terlebih lagi, kami memiliki keresahan dan keprihatinan yang sama terkait peningkatan gizi masyarakat. Bicara soal gizi, Temanggung sebenarnya adalah sebuah kisah sukses yang nyata lewat Program Anting Emas (Ayo Cegah Stunting dengan Program Inovasi Kesehatan).
Lima tahun lalu, tepatnya pada tahun 2021, angka stunting di sana menyentuh 20,5%, bahkan sempat melonjak hingga 28,9% pada tahun 2022. Namun secara luar biasa, pada tahun 2025 angkanya berhasil menyusut hingga tersisa 13,9%. Sebuah keberhasilan fantastis yang melibatkan kolaborasi lintas sektor; sebuah strategi komprehensif yang memadukan gerakan sosial gotong-royong dengan intervensi medis yang terukur. Saya tentu akan sangat senang untuk menyapa Temanggung kembali.
Menyemai Benih Harapan
Sebelum berkemas untuk pamit, saya merogoh tas dan membagikan sebagian benih Sacha Inchi yang saya bawa kepada Mas Totok dan Mas Lazit. Ada binar harapan saat jemari mereka menerima benih-benih kecil itu. Besar ekspektasi saya agar mereka berdua menyemai dan menanamnya di lahan masing-masing. Saya sangat berharap, pada pertemuan dan kunjungan berikutnya ke Telomoyo, saya sudah bisa melihat tanaman ini tumbuh subur, berbuah lebat, dan mulai membawa manfaat nyata bagi perbaikan gizi masyarakat sekitar.
Perjalanan hari ini memberi saya satu perenungan berharga: terkadang Tuhan sengaja memutar jalan kita lewat rute yang tak terduga dengan cara yang misterius. Semua itu dilakukan-Nya hanya untuk mempertemukan kita dengan orang-orang baik di waktu yang paling tepat. Itulah indahnya rencana-Nya.
Tak lama kemudian, mendung perlahan berlalu, langit mulai membersih, dan motor Win saya sudah bersiap untuk kembali melaju menuju Kemuning.