
Taman Air Baturraden Adventure Forest
Dalam keindahan harmoni yang kini kurasa, Terselip sebuah tragedi, tersembunyi tangis dan kekalutan, Memakan jiwa, saat murka Serayu meluap tak tertahan.
Oleh: Ossario Hussein
Oh… Baturraden, bisakah jeda sebentar saja kau berikan, Hentikan tarian rintik yang tak kunjung usai ini? Ah, tak pantas rasanya bibir ini mengucap keluh kesah, Meski kesabaranmu teruji, alam selalu berbisik, memberiku tanda.
Mungkin itulah caramu, Baturraden, berbincang dalam sunyi.
“Wahai Ossario, lihatlah gumpalan mendung yang memayungi, Siapkan dirimu, sebelum tirai hujan membentang membasahi.” Namun hati ini, seperti manusia lainnya, terkadang masih tersenyum remeh.
“Ah, mendung belum tentu hujan,” bisik seloroh dunia, penuh angkuh. Lalu, kutersadar: Betapa pongahnya diriku dalam kebodohan, Bebal dalam abai, Terlalu lalai memahami bahasa suci sang alam.
Ku labuhkan diri, mencari naungan sunyi, Di barak bambu, tempat pelarian dari hujan yang memburu. Karpet biru terhampar, seolah permadani yang ramah, Menjadi sandaran bagi raga yang sejenak terlepas dari riuh gelisah.
Tepat di sisi kiri, Sungai Pelus menyanyikan lagu abadi, Suara air berkejaran deras, membelah hamparan batu, Sebuah orkestra liar yang memamerkan kekuatan hulu. Sementara di sisi kanan, taman air menyajikan kelembutan yang teduh, Sebuah kanvas nyaman, yang biasanya kulewati tergesa.
Namun kini, aku terhenti. Mungkin ini adalah sapaanmu, wahai Baturraden, Cara bicaramu yang lembut, memaksa langkahku terdiam, Agar kumenikmati lebih lama, lebih dalam, Setiap jengkal keindahan yang Kau hadirkan.
Di jantung taman air, tegak membisu, Satu batang pohon besar, bercabang tiga, tertancap kokoh. Meski jasad telah tiada, tak lagi berdaun, Kau tetap pilar kehidupan, sebuah anugerah tak terperi.
Di rekahan kulitmu yang renta, anggrek-anggrek menari, Daun-daun hijau menyembul, segar dalam pelukanmu. Teruntai anggun Kantung Semar Gunung Slamet (Nepenthes andrianii), bergelayut manja, Bersanding mesra dengan Dendrobium nan rupawan.
Di lantai taman, kerikil kecil terhampar, Tersusun rapi, berkelok-kelok, tak luput dari sentuhan tangan. Mereka adalah batas yang lembut, memandu pandangan. Di sana, Tumbuhan Bintang Air (Cyperus papyrus) bangkit, Bergerombol menjulang tegap, seolah pena-pena raksasa menulis keheningan.
Tak jauh dari rumpun itu, keajaiban lain bersemi: Paku Sarang Burung (Asplenium nidus), melebar dalam keagungan, Dan Melati Air (Echinodorus paleafolius) yang menanti waktu mekar. Meski kuntum belum terbit, bunganya masih tersembunyi, Keindahan telah sempurna dalam dedaunan hijaunya. Mataku menikmati damai, sejenak terbius oleh tatanan ini, Di mana setiap elemen, dari batu hingga daun, menemukan tempatnya yang indah.
Air taman ini, warisan suci dari hulu Slamet, Ia mengalir perlahan, bertemu takdirnya di Sungai Pelus. Bagaimana mungkin, dalam satu nafas waktu, dua aliran lahirkan kontras? Di satu sisi, kekuatan menderu, gegap gempita yang tak terhentikan; Di sisi lain, kelembutan cermin, ketenangan yang menenangkan jiwa. Baturraden, sungguh hebat engkau berbisik.
Dari tempat berteduh ini, Kau ajarkan cara alam bekerja: Bahwa setiap batang yang mati pun adalah tiang kehidupan yang baru, Bahwa tangan manusia yang telaten merawat harmoni, Menata Nepenthes dan Dendrobium, menempatkan rerumputan air pada porsinya. Semua, saling menopang, berpadu dalam orkestra damai.
Air nan tenang dari petak taman ini, merangkul erat kekuatan liar yang dibawa Sungai Pelus. Bersama, mereka berjanji setia, menyambut perjumpaan, Dengan Sungai Klawing yang mengalir dari Purbalingga. Berhimpunlah mereka semua, pada satu tubuh besar, Di nadi perkasa Sungai Serayu, Yang telah mengukir jejak panjang dari Wonosobo dan Banjarnegara.
Dan pada akhirnya, dalam perjalanan panjang tak terhindarkan, Mereka menuju Cilacap, melabuhkan takdir abadi, Menyatu dalam keagungan tak terbatas, Samudera Hindia.
Namun, hujan terus melanda, tanpa jeda yang disangka. Dalam keindahan harmoni yang kini kurasa, Terselip sebuah tragedi, tersembunyi tangis dan kekalutan, Memakan jiwa, saat murka Serayu meluap tak tertahan.
Bukan salahmu, wahai sungai, jika umpatan dan makian datang, Jika kau menjadi kambing hitam bagi luka yang tercipta. Andai tangan-tangan telaten itu sudi merawat harmoni abadi, Maka keindahan yang ku dapatkan ini, Akan terangkai sempurna, tanpa air mata, hingga Samudera Hindia.
Ku pejamkan mata ini, hasrat untuk melepas lelah, untuk tertidur. Terima kasih, alam, atas pelajaranmu yang tak terhingga.