Hutan yang hilang, rumah dan segala benda yang tersapu banjir bandang, dan korban jiwa yang berjatuhan adalah realita, kenyataan yang terjadi—bukan sekadar angka yang tak bermakna.
Oleh: Ossario Hussein
“Aku Don Quixote de la Mancha, ksatria dari Mancha. Dunia memanggilku, dan misi utamaku adalah mengembara di hutan-hutan ajaib, menghadapi raksasa dan binatang aneh demi menyelamatkan putri tawanan dan menegakkan keadilan bagi yang lemah. Namun, di dunia yang sama sekali berbeda, izinkan saya memperkenalkan diri: saya adalah Batavus Droogstoppel, makelar kopi dari Lauriergracht No. 37. Saya sudah berkecimpung dalam bisnis kopi selama tujuh belas tahun, dan sebagai pengusaha berpengalaman, saya hanya memegang teguh kebenaran dan akal sehat, bukan khayalan kosong.”
Sebuah suara serak yang berbau tinta dan kopi menyentak lamunan sang ksatria. Itu adalah Batavus Droogstoppel, makelar yang hanya mengakui angka, bukan ilusi.
“Apa gerangan yang konyol ini, Don Quixote?” ucap Droogstoppel dengan nada mencibir, tangannya menyentuh lipatan uang kertas. “Apa yang Anda rencanakan sekarang, Tuan?”
Mata Quixote berkilat, penuh dengan api idealisme dan kengerian yang hanya bisa ia lihat. Ia menjawab dengan suara berat, seolah baru saja kembali dari medan perang sejati.
“Ini… inilah waktunya aku melawan! Segerombolan raksasa berbadan besar, dengan paras bak kalelawar dan empat tanduk tajam, kini sedang meluluhlantakkan hutan suci! Napas api mereka adalah hawa kematian, dan lihatlah—mereka mengeluarkan cairan hijau busuk yang meruntuhkan rumah-rumah penduduk tak bersalah! Butakah mata Anda? Tidakkah Anda melihat ratusan korban jiwa yang mereka sebabkan?”
Hening. Sunyi yang menusuk tulang. Kaki-kaki gagah nan ringkih Rocinante kini tak lagi terdengar decitnya; tempatnya yang biasa di sisiku telah kosong, hanya menyisakan bayangan setia. Kehilangan juga menyelubungi sosok Sancho Panza—siapa kini yang akan menjadi pelabuhan akal sehatku, meski hanya untuk kuabaikan? Aku sendirian, sendirian menghadapi kehancuran yang nyata dalam mataku.
Lantas, biarlah! Aku akan maju! Aku akan menebas para raksasa-raksasa itu hingga ke akar-akarnya! Hanya ini, hanya kegilaan heroik ini yang tersisa untuk kulakukan.
Namun, di sela-sela tekad, rasa nyeri mencengkeram: Sampai kapan para penduduk yang malang ini dapat bertahan? Gudang-gudang makanan telah kosong, dilalap api kemurkaan para iblis. Bantuan yang dijanjikan dari kerajaan—sebuah janji kosong—hanya bisa melayang bebas di udara, entah jatuh di mana, jauh di luar jangkauan tangan tuaku. Aku tak mampu meraihnya, dan para penduduk hanya bisa menanti kehancuran.
“DASAR GILA!” bentak Droogstoppel, suaranya tajam dan tidak sabar. Ia menunjuk ke langit dengan jari gemetar, mendesak, “Buka mata Anda lebar-lebar! Apa yang Anda lihat itu raksasa? Bukan! Itu ulah awan-awan sialan yang membawa hujan di luar kewajaran! Mereka menari-nari di langit, memuntahkan air bah yang menghantam hutan!
Dan apa yang Anda keluhkan tentang hutan gundul? Kami memanfaatkan hutan itu untuk kepentingan kita bersama! Untuk menghidupi kerajaan dan—ya—desa yang Anda bela itu! Ini adalah roda ekonomi yang harus berputar! Dan kini, karena bencana alam ini, para kawan-kawan pengusahaku yang terhormat harus menanggung kerugian. Jangan kira hanya Anda yang menderita! Kami juga mengalami nasib yang sama! Kerugian materiil yang menimpa kami jauh lebih nyata daripada khayalan raksasa Anda!”
Suara Droogstoppel yang sinis tidak mampu menghentikan langkah Don Quixote. Tubuh kurus dan ringkih itu perlahan-lahan menghilang, tak terlihat, tertelan lumpur di tengah dentuman air.
Kehidupan harus berjalan, pikir Droogstoppel. Roda keuntungan tak boleh berhenti. Siapa lagi yang memikirkannya? Jangankan orang gila itu! Biar ia bersimbah dengan kegilaannya.
Satu hari berselang, dua hari berselang, wilayah bencana dan korban jiwa semakin bertambah, kini hampir menyentuh 800 jiwa. Droogstoppel hanya membaca dari pemberitaan yang terus mengisi lini masa. Tak ada kabar dari Don Quixote. Apakah masih hidup atau lenyap, bukan urusanku!
Perlahan terdengar suara Don Quixote, berteriak-teriak dengan suara nyaring. Rupanya masih hidup! Ia memasuki halaman rumah, wajahnya sudah tidak dapat dikenali lagi, tubuhnya yang kurus kering terselimuti lumpur dan sisa-sisa bencana. Kadang ia berguling, melompat—entah apa yang dilakukannya. Semakin lama, ia mendekat dan menghampiri.
“Hai iblis, hentikan ulahmu! Kekuatan batu dalam hatimu itu yang harus kuambil untuk menghentikan semua!” ungkap Don Quixote.
Droogstoppel terperanjat, tak mengira ancaman itu ditujukan padanya. Sudah gila kau! pikirnya, Lekas sadar dari khayalanmu! Namun, pedang yang ia lihat semakin dekat dan tajam, siap menghujamnya. Tak ada lagi batas realitas dan fantasi. Semua terkungkung dalam keyakinan akan pembenaran diri.
Aku hanya menerawang dalam lamunan. Bencana alam di Sumatera, hutan yang hilang, rumah dan segala benda yang tersapu banjir bandang, dan korban jiwa yang berjatuhan adalah realita, kenyataan yang terjadi—bukan sekadar angka yang tak bermakna.
Catatan Pinggir: Refleksi Bencana Alam Sumatera.